Wednesday, 27 March 2013 2 Comments

MARSINAH YANG NIRBATAS RUANG DAN WAKTU

MARSINAH, perempuan buruh pabrik di Porong Sidoarjo itu adalah ingatan sosial yang tak akan pernah terhapuskan. Sejak ditemukan menjadi mayat pada 8 Mei 1993, akibat penyiksaan hebat yang dialaminya karena menjadi motor penggerak kawan-kawannya yang menuntut hak-hak buruh, tafsir atas dirinya tak akan pernah lekang oleh zaman. Benarlah kiranya apa yang disampaikan oleh Mirek, tokoh di novel The Book of Laughter and Forgetting, karya Milan Kundera itu, bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.
Setiap upaya bagi tafisr baru pada Marsinah adalah upaya untuk melawan lupa sembari mengekalkan ingatan dari sepenggal sejarah hitam Indonesia. Marsinah menjadi penanda kisah keji kemanusiaan yang menerabas ruang dan waktu. Tak hanya di Indonesia, kisah perempuan yang jadi simbol perlawanan buruh itu menjadi milik dunia. Sejak kematiannya, hingga sekarang, tafsir baru dalam banyak media dan disiplin hadir memberi peringatan.
Dan tafsir baru itu hadir pada kamis malam (14/03) di gedung pementasan Taman Budaya Propinsi Sulawesi Tengah oleh penampilan monolog. Naskah lama karya Ratna Sarumpaet berjudul Marsinah Menggugat (1997) itu diperankan dengan penuh totalitas oleh akting Deita. Sutradara pementasan, Mohamad Nurdiansyah atau yang lebih dikenal dengan nama panggilan Toto, menghidupkan kembali getir di menit-menit terakhir Marsinah yang mengalami penyiksaan dan akhirnya secara tragis dibunuh.
Tata panggung yang minimalis –hanya ada Marsinah sendiri dan sebuah bangku tempat interogasi, sudah sangat menjelaskan kengerian penyiksaan yang tak seharusnya dialami oleh siapapun manusia, kata Marsinah dalam sepenggal monolog itu.
Deita yang memerankan kesakitan yang teramat sangat yang dialami Marsinah, mengolah kesakitan itu sedemikian rupa dalam intonasi suara dan gerak tubuhnya. Ada yang membahagiakan dari sana, muncul bakat-bakat baru seni peran yang dilakoni perempuan, karena kesan aktor lelaki yang lebih sering dalam banyak pementasan. Kritik setelah pementasan datang, kostum Deita yang kurang menggambarkan kesakitan itu.
Pentas malam itu ditujukan untuk persiapan menghadapi perhelatan Festival Monolog  yang akan diselenggarakan di Jember, Jawa Timur, 25 – 27 Maret 2013.

Foto katalog pementasan dari http://www.facebook.com/photo.php?fbid=4308746970532&set=a.2020544126891.92208.1642585311&type=1&theater&notif_t=photo_comment_tagged
Sekali lagi, tafsir atas Marsinah tak hanya ada di naskah monolog atau drama, tapi juga film yang pernah dikerjakan oleh Slamet Rahardjo, dan bahkan musik. Semua dari tafsir itu awalnya mendapat penolakan dari negara. Apa yang telah dilakukan Toto dan Deita adalah upaya yang tak hanya sekadar seni tapi juga komitmen kemanusiaan. Atas alasan itu, kita seharusnya memberi apresiasi yang setinggi-tingginya.

Sumber : http://nemupalu.blogspot.com/2013/03/marsinah-yang-nirbatas-ruang-waktu.html
Tuesday, 26 March 2013 0 Comments

Konsep Pertunjukan Musik "Disini, Kami Ingin Nur Kembali"

PENGHADIRAN BUNYI

 

















Kami menyimpulkan bahwa Kedatangan Islam ini membawa pembaharuan “peradaban” di Kota Palu. Ini yang coba di transfer menjadi satu bentuk pertunjukan musik yang dimana penghadiran bunyi di karya ini dalam penggambarannya secara musikal lebih menuju kepada perubahan sebelum dan masuknya ajaran Islam itu sendiri sampai kepada bagaimana pengimplementasiannya di kehidupan sekarang dengan tidak terlepasnya pendekatan bunyi – bunyian serta vokal – vokal dari beberapa tradisi dan kebudayaan masyarakat Kaili yang mempunyai kaitan dengan penggambaran dari suasana yang coba dihadirkan dari beberapa bagian dalam pertunjukannya.  Secara bentuk fisik, ada beberapa instrument pendukung yang coba dihadirkan yang terlepas dari alat – alat tradisi di daerah ini. Ini bukan menjadi masalah, kenapa tidak jika instrument itu digunakan untuk memperjelas suasana yang coba dihadirkan dalam garapan ini, dan itu sah – sah saja selama dalam penyampaian bunyi itu sendiri pada akhirnya di terima oleh pendengar.

Komposer : Ichsanul Amal
Player : Lawan Catur Ensamble 

For more, go to : http://festivalbunyibungi.wordpress.com/2013/02/28/lawan-catur-ensamble/

 
Monday, 11 March 2013 0 Comments

Preview Pertunjukan 14, 16, 23 Maret 2013 (Palu, Sulawesi Tengah)

Pre - Event Pertunjukan Monolog "MARSINAH MENGGUNGAT" Karya Ratna Sarumpaet (MENUJU FESTIVAL MONOLOG TINGKAT NASIONAL DI JEMBER, 25 - 27 MARET 2013)
(Aktor : Deita Sutradara : Mohammad Nurdiansyah)
Kamis, 14 Maret 2013 - Pukul 19:30 WITA
Gedung Olah Seni (GOLNI), Taman Budaya Palu - Sulawesi Tengah
HTM : Rp.10.000

TIKET BOX :
CP : +6285228138246 | +6281354266694
DENGAN MEMBELI TIKET, BERARTI ANDA TELAH MENDUKUKUNG TEATER SULAWESI TENGAH MENUJU FESTIVAL MONOLOG TINGKAT NASIONAL

MARSINAH SEORANG PEREMPUAN MUDA, USIA 24 TAHUN, SEORANG BURUH KECIL DARI SEBUAH PABRIK ARLOJI DI PORONG, JAWA TIMUR, TANGGAL 9 MEI 1993 DITEMUKAN MATI TERBUNUH., DIHUTAN JATI DI NGANJUK. DARI HASIL PEMERIKSAAN OTOPSI, DIKETAHUI KEMATIAN PEREMPUAN MALANG INI DIDAHULUI PENJARAHAN KEJI, PENGANIAYAAN DAN PEMERKOSAAN DENGAN MENGGUNAKAN BENDA TAJAM. KASUS KEMATIAN PEREMPUAN INI KEMUDIAN RAMAI DIBICARAKAN. BANYAK HAL TERJADI. ADA KEPRIHATINAN YANG TINGGI YANG MELAHIRKAN BERBAGAI PENGHARGAAN. TAPI PADA SAAT BERSAMAAN BERBAGAI PELECEHAN JUGA TERJADI DALAM PROSES MENGUNGKAP SIAPA PEMBUNUHNYA. SETELAH MELALUI PROSES YANG AMAT PANJANG DAN TAK MEMBUAHKAN APA-APA, KASUS UNTUK JANGKA WAKTU CUKUP PANJANG, DAN SEKARANG., SETELAH MARSINAH SEBENARNYA SUDAH MENGIKHLASKAN KEMATIANNYA MENJADI KEMATIAN YANG SIA-SIA, TIBA-TIBA SAJA KASUS INI DIANGKAT KEMBALI. MENDENGAR HAL ITU MARSINAH SANGAT TERGANGGU, DAN MEMUTUSKAN UNTUK MENENGOK SEBENTAR KE ALAM KEHIDUPAN, TEPATNYA, PADA SEBUAH ACARA PELUNCURAN SEBUAH BUKU YANG DI TULIS BERDASARKAN KEMATIANNYA. INILAH UNTUK PERTAMA KALINYA MARSINAH MENGUNJUNGI ALAM KEHIDUPAN. KAWAN-KAWAN SENASIB DI ALAM KUBUR TAMPAKNYA KEBERATAN. DAN DARI SITULAH MONOLOG INI DIMULAI.


Prodo imitatio bercerita tentang seorang manusia paruh baya yang kehidupannya di masa kecil selalu dikelilingi oleh harta dan kemanjaan. Sehingga menimbulkan rasa malas untuk melakukan sebuah proses pendidikan. Kasih sayang orang tua yang berlebihan meradang dalam diri prodo imitatio. Akhirnya pendidikan pun menjadi lebih mudah dengan adanya uang yang berlimpah dari orang tuanya. Namun seiring 
waktu yang berjalan prodo imitatiopun tak mampu bersaing dalam hal pendidikan untuk meraih gelar S1. Rasa malu itupun mengalir dalam dirinya. dan akhirnya iapun menyingkirkan diri secara perlahan-lahan dan bergabung di UNIVERSITY OF ZUZULAPAN.
Pendidikan memang menjadi syarat yang sangat berharga dalam menggapai sebuah impian. namun, jika pendidikan itu disalah gunakan bahkan sampai membeli dan menjual gelar, apa yang akan terjadi dinegeri ini?

Sutradara IPIN CEVIN
Monolog/Aktor YUDHA PRAWIRA
Pemusik NASHIR UMAR, UUN NASHIR
Artistik YADHI SAJA
Lighting ANDI ZULFIADI YOTOLEMBAH
Video Screen Director ICHSANUL AMAL


*Pre-Event menuju FESTIVAL MONOLOG TINGKAT NASIONAL di Jember, Jawa Timur pada tanggal 25 - 27 Maret 2013.

HTM : Rp. 10.000,-

Info Ticket Box : 081245171531 (Ipin) & 085241360960 (Milda)
Atau bisa langsung beli di :

* Balai Budaya, Taman Budaya Sulawesi Tengah - Jl. Abdul Raqie No. 1 Palu

* Sekretariat : Jl. Miangas I No. 18 Palu

* FKIP Jurusan Bahasa dan Sastra

* via twitter : @seniLOBO


Note :
Dengan anda membeli tiket ini, anda telah berdonasi dan mendukung Teater Sulawesi Tengah menuju Festival Monolog Nasional.

Salam Budaya,
Komunitas Seni Lobo


Kisah ini menggambarkan sebuah kegelisahan dengan situasi perasaan cinta, takut, gelisah bahkan amarah yang terpendam dalam bawah sadar , eksistensi manusia yang selalu dibenturkan dengan realitasnya, di mana keinginan-keinginan, harapan-harapan, kebiasaan-kebiasaan, ukuran-ukuran, konsep-konsep, tidak selalu cocok. Bagaimana kisah selanjutnya mari kita saksikan bersama-sama. Inilah “Tanda Bahaya” karya Bakdi Soemanto Sutradara Mohammad Nurdiansyah



TERIMA KASIH, SALAM BUDAYA
TABE

 
Arts Blogs
blog directory
;