Thursday, 4 April 2013

"BIOSKOP SMANSA 2013"; pelajar, karya, paradigma


Tepatnya tanggal 2 April 2013, “Bioskop SMAN 1 Palu” di gelar kembali untuk yang ke tiga kalinya semenjak tahun 2011 yang bertempat di Gedung Tertutup Taman Budaya Palu -  Sulteng, dengan biaya masuk senilai Rp.5000. Ini terbilang murah dengan kualitas film remaja yang menurut saya sebagai kacamata penonton saat itu dapat bersaing dengan tingkat diatas mereka. Rencananya akan diadakan pemutaran sesi kedua dengan film yang berbeda dalam selang beberapa hari kedepannya. Pembuatan film ini dikhususkan bagi Pelajar SMAN 1 Palu yang duduk di bangku kelas 3. Ini sebagai salah satu tugas praktek akhir semester MaPel TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Kabarnya, tahun ini praktek Film ini akan menjadi Ekstrakulikuler yang ditetapkan sekolah tersebut.

Malam itu, pemutaran yang berlangsung semenjak pukul 20:00 ini berlangsung dengan persiapan yang menurut saya sangat kurang. Sebenarnya sangat teknis sekali, tapi ini juga harus sangat diperhatikan demi mencapai pada situasi yang semestinya, meskipun pemutaran ini terbilang merupakan sebuah wadah kreatifitas kecil – kecilan yang menurut saya tidak kecil. Sekitar 7 film diputar pada Bioskop tersebut dengan beragam genre,  mulai dari yang bertemakan sosial, asmara, petualang, komedi, dan horor.

Dari sisi teknisi di bagian audio saat pemutaran terlihat betapa kurangnya pengecekan kembali dan kapasitas volume yang dikeluarkan serta mixing yang kurang diperhatikan, akhirnya audio yang dikeluarkan dari hasil film yang diputar “Over Bass”. Hal itu berpengaruh pada kualitas audio film yang di outputkan ke pengeras, dampaknya sangat fatal. Film yang seharusnya mempunyai audio yang bagus akhirnya harus menanggung kecewa setelah mendengar hasil yang dikeluarkan melalui pengeras tersebut. Ya, meskipun ini pemutaran kecil – kecilan, tapi penonton yang hadir pada saat itu beragam. Akhirnya, pandangan mereka dari sisi teknis film itu negatif, padahal sebenarnya persoalan ada pada sisi teknisi audio saat pemutaran. Dari sisi persiapan sebelum dan saat pemutaran itu berlangsung juga masih kurang diperhatikan. Saya kurang tau, apakah aturan – aturan pakem yang semestinya harus diberitahukan sebelum memasuki pemutaran itu disampaikan atau tidak? Saya rasa memang tidak diberitahukan, penonton menjadi bebas untuk melakukan apa saja sementara sikon yang seharusnya tidak seperti itu, karena kita dalam konteks menonton sebuah pemutaran atau pertunjukan. Baguslah jika aturan – aturan itu memang tidak disampaikan, karena jika sudah diberitahukan tetapi keadaan penonton terlihat sama dengan saat aturan tersebut tidak diberitahukan, maka betapa miris penonton pertunjukan di Kota Palu ini. Seharusnya, penonton yang terlihat mayoritas pelajar itu sudah sebenarnya paham tentang aturan – aturan penonton.  Jika belum, maka sangat perlu mereka di tekankan untuk mengerti bagaimana menjadi sebuah penonton yang serius.

Karya - karya tahun ini memang memiliki kemajuan yang pesat, mulai dari sisi teknis gambar, audio, dan ide. Tapi saya pribadi lebih fokus kepada persoalan ide tersebut. Tahapan serta tahapan pembuatan karya baik itu film, teater, musik, maupun tari itu harus mempunyai alasan – alasan yang jelas. Ini bukan sesuatu yang harus dikejar deadline seperti halnya SINETRON dan FTV, karena ini berbicara mengenai karya yang serius, apalagi soal kenapa harus mengangkat itu, dan sebenarnya lebih menuju kepada dampak dari hasil karya itu karena kita menyuguhkan sesuatu kepada penonton yang minimal dapat memberikan pembelajaran untuk mencerdaskan, dan lebihnya lagi kepada persoalan paradigma. Seperti yang kerap kita temukan di Televisi, sekitar 80% kita disuguhkan sebuah film yang lebih banyak menyenggol kepada persoalan asmara. Itu pembelajaran seperti apa? Akhirnya, dampak yang dihasilkan dari film tersebut  sangat tidak bisa diharapkan untuk kemajuan bangsa. Belum lagi dengan musik – musik yang notabene hampir sama arahnya dengan film – film tersebut. Kalau mau jujur, sebenarnya mereka membuat efek yang salah terhadap negeri ini. Kenapa mereka yang seperti itu harus di manage? Sementara banyak orang – orang denga karya – karya serius yang semestinya dan seharusnya dibantu malah tidak diperhatikan.

Sangat berharap untuk pemutaran selanjutnya bisa di perhatikan lagi untuk persoalan – persoalan kesiapannya, sebenarnya lebih merujuk ke masalah teknis saja. Meskipun ini pemutaran kecil – kecilan, setidaknya ini sangat berharga menurut saya. Minimal juga mereka diajar bagaimana mempertanggung jawabkan karya mereka dan diajar untuk berbicara di depan publik demi karyanya.

Lain dari pada hal itu, kiranya saya dapat memberikan apresiasi yang sebesar- besarnya kepada pelajar SMANSA yang telah menyuguhkan sebuah tontonan yang patut untuk kita jadikan pembelajaran untuk menuju kepada kecerdasan dan akhirnya juga dapat bermuara baik kepada persoalan paradigma orang – orang disekeliling kita. Dari sekolah seharusnya merasa bangga dengan adanya potensi – potensi, minat, dan bakat siswa(i) mereka. Dorongan dan dukungan itu sangat diperlukan. Saya juga berharap ini akan terus berlanjut, karena pencarian bibit – bibit generasi bermula dari sini. Orang – orang yang serius bisa dilihat dari karyanya, dan pelajar – pelajar SMANSA yang serius di bidang ini akan terlihat nantinya bahwa mereka tidak akan berhenti di Bioskop ini. Saya pribadi juga tidak mematok mereka harus ke bidang itu. Biarkan mereka mencari, biarkan mereka menemukan dan terus menemukan hingga akhirnya akan berpijak pada kenyamanan mereka sendiri.



Salam
Ichsanul Amal (ICHEN)
Palu, 6 April 2013  


1 Comments:

UX Designers Delhi said...

Hey keep posting such good and meaningful articles.

Post a Comment

 
Arts Blogs
blog directory
;