Thursday, 7 June 2012 0 Comments

(COPO) Cahayamu Membias di Kota Kecil Dipinggiran Bengawan (SOLO)

Copo, dalam bahasa lokal berarti lampu yang umumnya terbuat dari kaleng susu bekas dan berbahan bakar minyak tanah. Nah, Kata ini kemudian diambil oleh Etenk Irsyad S.Sn (penggagas) untuk menamai komunitas ini sejak 4 tahun silam. Copo kali ini berbeda dengan copo yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari yang mayoritas penduduk menggunakannya sebagai pengganti cahaya dalam suasana gelap gulita untuk melanjutkan tuntutan hidup mereka. Sebuah lampu yang berbahan bakar minyak ini tentunya akan mempunyai masa penghabisan bahan bakar yang disebabkan dengan penggunaannya secara terus menerus, tentulah jika habis pasti akan di isi kembali, mungkin juga tidak. Di era modernitas sekarang ini, mengingat teknologi yang semakin berkembang pesat, penggunaan lampu copo pun semakin berkurang dan mungkin hanya beberapa orang saja yang memiliki perekonomian diatas standar yang mengabaikan penggunaan lampu copo ini, sebaliknya penduduk yang ekonominya masih dibawah rata – rata masih ingin bercengkrama dengan lampu copo. Belum lagi ditambah lagi dengan masalah yang sedang tren melanda negeri kita yaitu kenaikan harga BBM sehingga betul – betul membuat beberapa penduduk yang masih menginginkan untuk menggunakan copo tersebut semakin sirna sudah. Tapi beda halnya  mengenai penamaan copo pada komunitas ini, copo yang dalam kehidupan sehari-hari yang kita tau memiliki beberapa kendala – kendala yang lumrah, tapi Copo dalam komunitas ini tidak takut akan kenaikan BBM, penghabisan bahan bakar ataupun penggantian era teknologi yang menyebabkan tersingkirnya lampu copo. COPO disini mempunyai cahaya yang tidak akan pernah untuk padam, layaknya cahaya tanpa bahan bakar, dan tidak akan pernah bisa untuk ditimpa pada era pembodohan teknologi sekarang ini. 

Melirik perkembangan teater pada bebarapa tahun sebelumnya, Komunitas – komunitas teater yang dibentuk oleh beberapa "Tadulako" kita mungkin memiliki permasalahan yang tidak jauh beda dengan permasalahan yang dialami oleh Lampu copo umumnya dalam kehidupan sehari-hari. Sebuah komunitas teater yang terbentuk saat itu tentunya akan memberikan sebuah atmosfer yang sangat baik bagi perkembangan teater di kota palu. Tidak hanya itu, jika komunitas – komunitas tersebut memiliki pertahanan yang sangat kuat dan bisa bertahan hingga sekarang ini, mengingat rangsangan teater pada era ini cukup banyak, mulai dari tingkat SMP SMA bahkan SDpun  ada. Maka beruntunglah mereka yang ingin berkreasi. Tapi sungguh disayangkan komunitas – komunitas tersebut telah kehilangan bahan bakar sehingga pada konteks copo kali ini, “tidak lagi menyala/redup”. Lain hal dengan Komunitas Teater Copo kali ini, dalam kehidupan sehari-hari sebuah lampu copo yang tadinya memiliki ruang pencahayaan yang terbatas, namun Copo dalam hal ini menurut saya memiliki kualitas pembiasan cahaya yang luar biasa, pembiasan cahaya yang semakin membesar melebihi ruang pencahayaan lampu copo pada umumnya. Nah, salah satu efek pembiasan cahaya tersebut adalah Kota kecil di pinggiran bengawan (SOLO). Maka tibalah waktunya bagi Copo untuk memulai petualangannya di Kota tersebut. Bravo Teater.. Bravo Copo.. 
"Cahaya diatas cahaya dalam misykat (Pelita dalam lubang tak berlubang)"

Menuju Festival Monolog Kenthoet Roedjito (Solo, 4 - 7 Juli 2012)

Komunitas Tanggul Budaya kali ini menggelar sebuah Festival monolog untuk wilayah Se-Indonesia. Dengan partisipan yang telah ditetapkan oleh panitia berdasarkan hasil seleksi yang dilakukan dewan juri event tersebut terhadap seluruh pendaftar yang telah memenuhi persyaratan tahap seleksi, maka ditetapkan 18 peserta lolos seleksi, salah satunya Teater Copo Kota Palu. Nah, sebelum mengadakan petualangan di Kota Solo, diadakanlah presentase karya yang akan disuguhkan pada event tersebut. Sebuah karya dari Nano Riantiarno dengan Judul Cermin, dipentaskan di Gedung Olah Seni (Taman Budaya Palu, Sulawesi Tengah) menjadi sebuah karya yang ditetapkan oleh pihak Copo untuk dipentaskan.



Inilah beberapa nama yang lolos seleksi, diantaranya adalah : Welly Suryandoko (Teater bebas, Surabaya), Mohammad Aditya ( Jalan teater, Bandung), Hata Saputra ( Teater rumah teduh, Padang), Rofiullah Muazdin (Teater hastasa, Surabaya), Dindon Kajeng ( Teater TIS, Bali), Anisa Dwi Soraya ( Teater delik, Solo), Miftahul Jannah ( Teater Kidung, Solo), Amri Yahya ( Teater zenith, Pekalongan), Shinta Nur ( Bengkel Seni Bassi, Makassar), Riska Dwi Novita ( Teater Q, Surabaya), John Heriyanto ( Laskar Panggung, Bandung), Arifin Baderan ( Teater Copo, Palu), Galuh Tulus Utama ( Umum, Surabaya), Siti Aisyah ( Teater keliling, Jakarta), Abdi munif ( Umum, Jepara), Elvira Rista Vionita ( Umum, Gresik), Deandra Syarizka ( GSSTF, Sumedang), Rizky Muhammad Aswar ( Sanggar ADA, Banjarmasin). 

Ichsanul Amal - Palu, 7 Juni 2012
 
Arts Blogs
blog directory
;