Sunday, 26 February 2012 1 Comments

Seni Pertunjukan Kontemporer Berbasis Tradisi

Pengantar

Indonesia adalah “potret” sebuah negeri yang memiliki potensi seni pertunjukan cukup besar. Kebhinekaan dan kemajemukan daerah, etnis dan bahasa di Nusantara justru semakin mengukuhkan betapa beragamnya seni budaya kita. Kesenian bukan hanya semata hiburan, melainkan naskah dan dakwa, sebagai media penyadaran, media pendidikan dan media renungan. Selain sebagai ungkapan ekspresi, seni pertunjukan juga menggunakan idiom-idiom kebudayaan Nasional sebagai alat artikulasi, seperti seni sastra modern, teater modern, tari kontemporer, seni lukis kontemporer. Persoalan sekarang faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan dan sosial ekonomis masyarakat diberbagai belahan bumi ialah proses modernisasi. Pada hakekatnya modernisasi termasuk bagian penting dari proses sosial. Moderniasi sering diartikan sebagai perubahan total dari masyarakat tradisional menuju suatu masyarakat yang maju. Dengan harapan bahwa perubahan ini akan dapat menghasilkan perbaikan nasib. Pengaruh modernisasi dalam bidang kesenian adalah tampilnya berbagai jenis seni yang bermuara pada pemanfaatan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern itu sendiri.

Bentuk Acara
Seni Pertunjukan Kontemporer Berbasis Tradisi berfokus pada kearifan budaya lokal suku Kaili, mengangkat kisah mitologi dan Musik tradisi pesisir dan pedalaman Sanggar Seni yang Tampil Sanggar seni Lentera kolaborasi dengan beberapa Komunitas, sanggar, kelompok seni yang ada di Kota Palu, yakni Anantovea, KST, Teater Copo, Technokrat 12, Teater 45, Sas Caraka, 3 in 1.

Pertunjukan Teater
"Panoto Muli" Naskah Sutradara : M.Noerdianza

      “Panoto Muli” naskah sutradara M.Noerdianza berangkat dari mitologi Tomanuru, dan membenturkannya dengan konteks kekinian. Zaman modern ini hal apa saja bisa dilakukan. Tapi sangat disayangkan lebih banyak melahirkan pemikiran negatif ketimbang pemikiran positif. Menciptakan senjata digunakan untuk saling membunuh. Ini sama halnya dengan pemikiran manusia purba. Zaman saja yang berubah tapi pemikiran-pemikiran kita masih sangat primitif suka meniru dan ikut-ikutan masa bodoh apakah itu buruk adanya. Kesenian bukan semata media hiburan, melainkan sebagai naskah dan dakwah, sebagai media penyadaran, media penyampai pesan dan media pendidikan. Apalah artinya kesenian bila terlepas dari derita lingkungannya. 
           Semiotika dalam naskah “Panoto Muli”. Semiotika adalah hukum tanda dan penanda. Gaya, aliran, dan bentuk pemanggungan kontemporer. Tetapi konvensi masa lalu tidak dibuang melainkan sebagai dasar pijakan. Misalnya; penghadiran dua tokoh Tomalanggai dan Tomanuru. Kedua tokoh inilah yang dijadikan dasar pijak mencipta tanda-penanda bahwa Tomalanggai sebagai gambaran manusia itu sendiri. Penghadiran Cahaya melalui LCD Proyektor adalah simbol turunnya Tomanuru atau ilham, yang merubah pola pikir manusia tradisi (kebiasaan yang diajarkan secara turun-temurun ) menjadi modern, yang di visualkan melalui transisi tubuh purba ke tubuh modern. Menggambarkan peristiwa tubuh purba saat beraktivitas dan tubuh purba saat berburu. Sementara pengkajian melalui folklor tidak ditemukan data-data tertulis gaya bahasa maupun dialog di era prasejarah Tomalanggai. 
            Dalam naskah “Panoto Muli’ Penulis tidak serta-merta membuat bahasa, melainkan melalui observasi, ada yang bilang bahasa Kaili dulu hanya 2 huruf, yakni “Ai” berkembang menjadi “Iya”, lalu kemudian menjadi “Ai iya”. (nara sumber Kais). Ada juga yang mengatakan bahasa Kaili itu seperti penggabungan 4 bahasa, yakni Arab, Cina, Jepang dan India. (nara sumber Djaludin) Dari ke 4 bahasa ini penulis mencoba menggabungkan garis besarnya saja dari ragam bahasa tersebut misalnya; dalam bahasa arab lebih menekankan kata ‘Qa’, dan ‘Kha’. Sementara dalam bahasa cina lebih kepada ‘Ci’, Jepang ‘Haii’ dan India ‘Ceiya’ dan ‘nehy’. Alasan penciptaan bahasa baru ini bukan semata mencari sensasi ataupun sebagainya ini dikarenakan tidak adanya data-data peninggalan sejarah tertulis mengenai gaya bahasa zaman era pra sejarah Tomalanggai. Jadi menurut penulis sah-sah saja mencipta dan membuat kembali bahasa baru kemudian disepakati bersama Aktor dan Sutradara. Bukankah bahasa tercipta melalui sebuah kesepakatan? Sementara penghadiran gerak tari antara Tomalanggai dan Tomanuru sebagai simbol dari sifat manusia yang hidup berawal pada peniruan dan penanda kesetaraan antara kaum perempuan dan laki-laki. Serta proses penciptaan ide/gagasan antara manusia dengan pikirannya. Bunyi suara bayi menangis. sebagai simbol berhasilnya proses penciptaan, divisualkan melalui gedung-gedung, tombak, parang,Sumpit. Lahirnya benda-benda dari hasil penciptaan melalui ide/gagasan atau ilham seperti sumpit, panah, senjata dan parang, malah digunakan untuk membunuh sesama. Dengan anggapan biar dibilang pemberani, biar disegani, biar dibilang hebat, merasa diri benar, tidak mau mengalah dan merasa diri lebih berkuasa. Zaman modern hanya nampak pada perkembangan teknologi, dengan hadirnya gedung-gedung, jembatan dan sebagainya tetapi pada pemikiran individu manusia masih sangat primitif. Contoh kasus yang terjadi dalam realitas sosial kita di Kota Palu, perkelahian sesama suku. Tanpa kita sadari apa bedanya kita dengan manusia primitif (sumber : M.noerdianza)

SAKSIKAN PERTUNJUKKAN "PANOTO MULI" SANGGAR SENI LENTERA SABTU, 10 MARET 2012 PUKUL 19.30 WITA TAMAN BUDAYA SUL-TENG HTM Rp.15.000,-

Artikel Terkait :

Make a Credit Card Via Online : Click Banner Bellow To Register
Friday, 24 February 2012 3 Comments

Uwentira "Kota Mistis Di Wilayah Kota Palu, Sulawesi Tengah"

(UWENTIRA KOTA MISTIS)
Wentira atau Uwentira, merupakan nama sebuah kota misterius yang terletak di Sulawesi Tengah. Wentira bagi anda yang bukan warga asli Sulawesi tengah memang asing di dengar, di sini saya akan mencoba ceritakan kepada pembaca tentang kehidupan di alam wentira yang kalau di lihat dengan mata biasa hanyalah sebuah tikungan tajam yang merupakan jembatan, tugu dan sebuah pondok peristrahatan di pinggir jalannya. Akan tetapi bagi mereka yang sudah pernah masuk ke wilayah Uwentira, kota ini bagaikan kota termodern di dunia bahakan dianalogikan seperti Kota Paris di Perancis. Wentira ini terdapat di Kebun Kopi (lintas Trans-Sulawesi) Jl poros tawaeli – Toboli. Menurut keyakinan masyarakat setempat, yang disebut kawasan Wentira atau Uwentira adalah wilayah yang sekarang dikenal sebagai kawasan kebun kopi, di jalan Trans Sulawesi poros Sulawesi Selatan – Sulawesi Tengah. Di sekitar sana tidak ada pemukiman penduduk hanya pohon-pohon yang menjulang tinggi berwarna keputih-putihan ditandai dengan sebuah jembatan yang konon hanya orang yang mampu melihat hal-hal gaib-lah yang bisa melihat kalau ternyata jembatan itu juga merupakan pintu gerbang untuk masuk ke Kerajaan mistis Uwentira. Menurut orang Kaili (Suku asli di Sulteng) di jalan poros Tawaeli – Toboli tersebut ada satu jembatan yang sangat tua usianya. Konon katanya, masih buatan Belanda. Di sampingnya ada satu jembatan jembatan beton yang digunakan konon tahun 1980-an setiap kendaraan yg lewat wajib memberi kode lampu atau setidaknya klakson sebagai tanda permisi mau lewat. Hal tersebut dilakukan menurut warga setempat adalah sebagai tanda izin atau permisi untuk melewati gerbang kota uwentira tersebut.

Kawasan Uwentira yang terletak di Kebun Kopi ini dikenal cukup berat, menanjak dengan kemiringan tajam. Belum lagi sering terjadi longsor. Jembatan tua itu masih ada hingga kini, dan bahkan sekarang ada sebuah tugu berwarna kuning bertuliskan NGAPA UWENTIRA. Ngapa dalam bahasa Kaili berarti Kampung, Negeri atau Kota. Uwentira berarti tidak kasat mata. Jadi NGAPA UWENTIA berarti Kota UWENTIRA.
Bagaimana ciri-ciri fisik warga Uwentira, apakah bedanya dengan manusia seperti kita? Mungkin inilah pertanyaan yang muncul di benak pembaca, baiklah saya akan mengupas satu persatu misteri Uwentira ini.
Gambaran Kota uwentira

Kisah Wentira : Kisah berikut agaknya sejalan dengan cerita yang saya dapatkan dari beberapa sumber di Palu maupun di luar Palu. Warga Uwentira tidak punya garis pemisah diatas tengah bibir, seperti layaknya manusia normal. Kota Uwentira pun di dominasi oleh warna Kuning ke-emasan baik itu gedung, kendaraan bahkan pakaian warga Uwentira di dominasi oleh warna tersebut. Bahkan ada beberapa kalangan menyebut Uwentira sebagai “Atlantis” yang hilang. Berikut kisah nyata tentang kota Uwentira, Cerita ini  di angkat dari kisah nyata Azizah seorang wanita tomboi dan ibunya yang tinggal di Biromaru KAB.SIGI yang sedang bepergian meninggalkan kota Palu untuk berangkat ke kota Poso. Pada saat itu mereka berangkat dari kota Palu menuju kota Poso pada jam 10 malam. Di tengah perjalanan ibu Azizah ngantuk berat dan tak bisa lagi untuk menahan rasa ngantuknya. Ibu Azizah berkata pada Azizah “Ijah ane mamala mengelo tampa maturumo ruru kita, naroyo gagamo mataku hi eva domo mamala kutaha” yang artinya “Ijah kalau bisa kita cari tempat tidur saja dulu, mama sudah gantuk sekali ini sudah tidak bisa mama tahan”. dan kebetulan pada saat itu Azizah sudah merasakan ngantuknya menjawab iye ma “iya ma”. Berselang 10 menit berjalan mengedarai motor mereka melihat sebuah Rumah Makan dan Tempat peristrahatan yang mewah di Kota yang begitu besar dan di diami oleh ribuan bahkan jutaan penduduk.kemewahannya mengalahkan kemewahan Rumah Makan dan Tempat peristrahatan yang pernah di kunjunginya di kota Palu dan besar kota itu seperti besar kota yang ada di luar negeri seperti Paris, tutur Azizah dan Ibunya. Mereka berduapun heran dan bertanya-tanya dalam hati kota apakah ini ? dengan memberanikan diri mereka menuju ke tempat peristrahatan itu kerana tidak tahan lagi ingin tidur. ketika mereka melangkahkan kaki menuju tempat peristrahatan tersebut Azizah di sapa oleh seorang aki-aki yang duduk di bawah pohon yang sangat besar (Pohon Nunu) dangan memakai pakaian yang sangat kotor. “Anda dari mana  dan mau kemana nak?” tanya aki. “saya dan ibu dari Palu mau pergi ke Poso jenguk keluarga yang sakit !! ” jawab Azizah. spontan aki itu memberikan iya nasihat, Hai anak mudah janganlah kau banyak-banyak meluangkan waktumu di Kotaini karena kota ini akan memintamu untuk tinggal di sini selamanya. Azizahpun terkejut dan bertanya kepada aki tersebut, ki apa nama kota besar ini ? aki menjawab nama kota ini dalah Kota UWENTIRA. setelah mendengar nama itu bulu kuduk Azizahpun merinding dan iya mulai menengokkan kepalanya di sisi demi sisi kota wentira tersebut. Setelah iya ingin bertanya lagi kepada aki itu di palingkannya kepalanya dan terkejut melihat aki sudah tidak ada entah tau kemana. Iyapun berlari kepada ibunya yang hendak baring di sofa empuk dan menarik ibunya untuk segera pergi dari tempat itu karena setelah mendengar nasihat aki tersebut iya paham bahwa kota ini bukan kota di alam nyata melainkan kotanya mahluk gaib. Ibunya terkejud dan bertanya Nakuya Ijah ? (Kenapa Ijah ?), ibunya bertanya berulang ulang kali tapi Azizah tdk menjawab 1 pun pertanyaan dari ibunya dan terus menarik ibunya untuk pergi dari tempat itu. Sebelum mereka meninggalkan Kota besar itu Azizah memberikan tanda denga merobek sehelai bajunya dan mengikatnya di sebuah pohon kecil yang berada di depan pintu masuk kota tersebut.

Setelah 2 hari di poso, merakapun pulang ke Palu.  saat mereka pulang dari Poso menuju Palu, di sepanjang perjalanan Azizah menengok kekiri dan kekanan. Ibunya bertanya “nakuya ijah ? dako pangane iko aga ngali hau ngali tumai kaupuna kita aga mapola ranjalu !!” artinya “ada apa Ijah ? dari tadi kau hanya tengok sana tengok sini terakhir kita hanya jatuh di jurang nanti !!”. tidak ma ada yang mau saya lihat di sekitaran jalan yang kita lewati ini jawab Azizah. tak lama kemudian Azizah pun melihat kain baju yang di ikatkannya di pohon kecil di pintu masuk kota besar tersebut 2 malam yang lalu. dan iya terkejut ternyata keindahan kota yang mereka lihat 2 malam yang lalu hanyalah sebuah jembatan dan sebuah pondok peristrahatan yang kecil beserta hutan dan jurang yang berada di sekelilingnya. Iyapun hanya diam dan tidak brcerita apapun sepanjang perjalanan pulang kepalu. Hingga kini Azizah tidak bisa melupakan kejadian yang luar biasa dalam kehidupannya ini. Sampai sekarang keanehan Uwentira tersebut masih di saksikan oleh bebrapa orang yang belum tahu cerita tentang UWENTIRA dan masi banyak kesaksian tentang besarnya Kota UWENTIRA.

Lihat Juga Berita Terkait Lainnya Tentang Uwentira :
1 Comments

"TAMBILUGI DANCE" From Palu Performance In Kobe - Japan

Tubuh manusia telah menjadi tari, begitu dia berjalan menghadapi dunia luar yang adalah peta bergerak bagi berbagai simpul kepentingan dan konflik.  Sudah sejak lama manusia begitu tergoda pada tubuhnya sendiri.  Melalui berbagai gelombang peradaban, godaan itu menggiring manusia mencari bayangan sakral serta kepuasan lewat tubuhnya sendiri.  Tubuh manusia adalah medan perang dengan nilai yang bergerak didalamnya, mulai dari soal kegagahan dan kecantikan, ikon, ras, ideologi dan agama. Tubuh manusia tidak hanya untuk berdiri dan jalan, tetapi juga bisa dan sering gemetar. Tubuh yang gemetar inilah yang melahirkan beribu ragam Gerak dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jika biasanya kita melihat tubuh yang gemetar biasa saja, tetapi di Sulawesi Tengah tubuh yang gemetar ataupun Kesurupan menjadi sumber dari lahirnya gerak-gerak Tari. Beragam upacara-upacara adat yang Sakral terdapat di wilayah ini, menganggap bahwa tubuh yang gemetar atau kesurupan melambangkan Keindahan, dinamisasi tubuh dan jika diolah dalam sebuah kajian pertunjukan panggung (Performance Art) maka dapat ditemui Eksotika Tubuh yang sangat indah karena tubuh yang mengalami langsung Kegelisahan menguasai Posisi, yang terus menatap setiap gerakan dan Tindakan. Dalam proses sebuah penggarapan Tari di Sulawesi Tengah (Khususnya etnis Kaili) menggali sumber gerak dari tahapan upacara adat penyembuhan yang telah turun temurun dari leluhurnya. Bagi masyarakat Kaili dikenal suatu upacara penyembuhan adat penyakit yang disebut Balia yang menjadi sumber Inspirasi gerak dari beragam pertunjukan Tari yang telah di ciptakan oleh beberapa Koreografer di Kota Palu.  Pengertian Balia ialah Tantang Dia  (Bali = tantang, ia/iya = dia), yang artinya melawan setan yang telah membawa penyakit dalam tubuh manusia.  Balia dipandang sebagai prajurit kesehatan yang mampu untuk memberantas atau menyembuhkan penyakit baik itu penyakit berat maupun ringan melalui upacara tertentu.  Peserta atau orang-orang yang terlibat dalam upacara (pesakitan) disebut memperata dengan pengertian bahwa memperata adalah proses awal untuk menyiapkan diri dan menerima kehadiran makhluk-makhluk halus kedalam tubuhnya.  Masuk atau tidaknya makhluk-makhluk tersebut ditentukan oleh irama pukulan gimba (gendang), lalove (seruling) yang mengiringi jalannya upacara ini.  Karena itu, agar semua peserta balia bisa kesurupan maka irama gimba, lalove dan gong itu harus berubah-ubah dan bersemangat hingga nantinya peserta balia tersebut akan melakukan gerak-gerak tarian yang kasar, cepat dan tak beraturan dalam kondisi kesurupan.  Pemimpin upacara ini ialah seorang dukun yang biasa disebut Tina Nu Balia yang berpakaian seragam terdiri atas buya (sarung), siga (destar) dan halili (baju dari kain kulit kayu), namun saat ini pemimpin upacara balia lebih sering menggunakan baju model kebaya.


Tambilugi berarti rata atau seimbang. merupakan ragam gerak Salonde pada Balia Tampilangi. Tambilugi begitu penting pada pola gerak gerak kaki dan tangan serta pengolahan nafas. keseimbangan gerak dan gesture dalam ruang kontemporer. Ada begitu banyak gerak-gerak yang tercipta dari upacara ini dan tubuh menjadi sumber utamanya.  Tubuh tari seperti ini membuat kerja koreografi dan kerja tubuh penari mengalami kesulitan besar untuk berhubungan dengan tema-tema tradisi-kontemporer. Jika diolah secara bertahap, gerak-gerak ini sulit untuk diterjemahkan secara cepat.  Hanya beberapa koreografer saja yang sanggup untuk membahasakannya lewat tarian pertunjukkan karena didasari gerakan yang kuat, cepat, lincah dan dinamis serta memposisikan tubuh sebagai objek tunggal bergerak tanpa henti.  Estetika tubuh sangat tergantung dari banyaknya gerakan yang masuk dalam satu komposisi tari.  Wacana tari sulit untuk tumbuh dalam budaya tubuh seperti itu.  Pengaruh kuat modernisasi membawa gerak-gerak yang radikal yang memilik dampak besar bagi sakralnya upacara balia.  Reproduksi sikap tubuh ini, terikat pada teknik, karena tidak mudah untuk membongkar atau mengubah pola tatanan gerak didalam Balia tersebut, dimana dasar gerak melingkar, berpegangan tangan serta menyatukan nafas untuk membawa tubuh ke tingkat ritual yang mendalam dengan kekuatan fisik sang penari tidak bisa dilakukan hanya dengan proses sebentar saja.  Dibutuhkan intensitas dan ketahanan tubuh untuk terus mengikuti jalan gerak yang mengalir. Balia menghadirkan “Tubuh Rakyat” dalam setiap gerakannya yang bernilai magis, masih bersifat tradisi.



Para koreografer/penata tari akan memutar otaknya setiap kali mengikuti pesta tari atau festival tari untuk mengeluarkan secara paksa kekayaan tradisi Balia.  Bahwa tubuh penari hampir kehilangan kosmologinya jika “Tubuh Mitos” dalam unsur gerak balia dihadirkan dalum balutan Tradisi-Kontemporer diatas panggung pertunjukkan, namun tidak dapat dipungkiri masuknya modernisasi ke dalam unsur gerak Balia melahirkan eksotika tubuh yang lebih bernilai. Kepuasan tubuh dalam mengeksplorasi sumber gerak Balia, tidak dapat ditutupi dari keseragaman penari dan upaya memaksimalkan tubuh untuk bergerak secara total. Tubuh siap Menerima Teknik Dan Memakai Kostum Tradisi Apa Pun,, Karena Tubuh pun Telah Mengalami Transformasi  lewat Tradisi. Fenomena ini menunjukkan betapa sebuah kerja koreografi tidaklah sama dengan kerja antropologi.  Begitu juga dunia tari tidak harus mengorbankan dirinya sebagai panggung antropolog yang artifisial, walaupun pasar membutuhkannya. Dunia tari –yang dianggap sebagai seni yang paling dekat dengan manusia, karena menggunakan tubuh- punya masalah yang jauh lebih rumit dari bidang seni lainnya. Balia telah menjadi fenomena dipanggung tari dan ditansformasikan kedalam konsep kekinian atau yang dinamakan kontemporer.  Balia tak lagi ditarikan secara serempak (massal), tetapi lebih banyak ditarikan secara tunggal ataupun berkelompok ( hanya 5 - 7 penari) berusaha untuk mengubah tradisi.  Kehadiran Performance Art, menjadi wacana baru bagi dunia tari khususnya tradisi yang mencoba masuk untuk menyatu dalam konsep tari modern.  Bagaimana menjadikan balia sebagai unsur gerak tradisi yang tak lepas dari estetika tubuh penari dalam pandangan modernisasi pada panggung-panggung Seni Pertunjukan


Artikel Terkait :
http://iinainardanceworker.blogspot.com/
1 Comments

Inspektur Jendral Oleh Teater Copo Palu, "INILAH INDONESIA"

Drama Satire Inspektur Jendral, Sebuah Karya Dari Nicolai Valisevich Gogol Seorang Sastrawan Rusia Berkebangsaan Ukraina mendeskripsikan dengan begitu gamblang borok-borok moral para pejabat-pejabat tinggi sebuah wilayah yang kemudian mempengaruhi mereka dalam mekanisme pengambilan keputusan atas sebuah problem individu maupun publik, bahkan kerusakan cara berpikir para pemangku kepentingan ini mampu mengacaukan hal - hal terkecil sekaligus sensitif bagi sosok pemimpin, Disiplin dan wibawa ! tentu kita semua sudah sangat mampu membayangkan bagaimana dampak bagi negara jika seorang pejabat nomor satu beserta jajarannya dalam sebuah wilayah Negara tersebut mengalami krisis disiplin dan pembawa’an. 


Suasana yang ditawarkan inspektur jenderalnya Gogol terasa begitu dekat dengan morat-maritnya Republik kita. Drama ini, menyajikan bentuk-bentuk kegelisahan serta keinginan kaum elit yang jauh dari landasan kepentingan masyarakatnya, malah munculnya segala jenis kesibukan tersebut berangkat dari kekhawatiran akan nasib pribadi mereka. Boleh jadi pada dua abad yang lalu Gogol menuliskan drama ini dengan tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh latar belakang kehidupan sosial, politik,budaya serta kaitannya terhadap kesadaran sejarah yang bergulir di zaman Tsar nya orang-orang Rusia dan tentu bersifat jauh lebih global. ( Tsar adalah gelar Kekaisaran Pertama dan Kedua Bulgaria sejak tahun 913 dan untuk merujuk kepada pemimpin-pemimpin Rusia pada dulu kala sejak 1547 hingga 1917.wikipedia), namun di kemudian hari kepekaannya ini dengan tidak sengaja telah membidik atmosfer politik serta dinamika kekuasaan pada negara-negara “coba terus berkembang” termasuk Indonesia yang semakin pasti mengalami kehilangan spirit dalam menjaga komitmen terhadap sistem politik yang telah di cetuskan guna menjalankan kehidupan yang mengutamakan prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya.



Kini terbukti bahwa berlandaskan kepekaan tersebut Nicolai V.Gogol mampu menemukan sebuah strategi pembacaan yang lihai dan cerdas serta dengan bijak menempatkan kesenian sebagai bagian dari pembentukan kultur pada masyarakat. 
Alhasil, kita orang Indonesia pun seolah merasa diwakili kegundahannya akan masa depan cerah sebuah negara oleh seseorang yang moyangnya mengaku secara kultural sebagai keturunan polandia. Nah, ketika kita menyepakati bahwa Republik hakikinya adalah gagasan untuk mengaplikasikan kesetaraan, persamaan di dalam kemajemukan Nusantara, maka sesungguhnya bangsa ini telah gagal besar dalam menjalankan misi tersebut. Mengapa ? apa tolak ukurnya ? mudah saja, karena kita ternyata masih merasakan bahwa keadaan Rusia di 2 abad silam yang dideskripsikan Gogol lewat “Inspektur Jenderal” merupakan perwakilan yang tepat bagi perasaan ketika kita menatap wajah pertiwi ini. Begitu jelas bagaimana pendidikan politik publik hanya sebatas retorika, dan program program yang mendukungnya tidak ada yang mengena esensinya,justru para pejabat publik selalu saja memaksakan pandangan pribadinya terhadap persoalan-persoalan publik, maka jadilah Republik ini sebagai lahan instalasi politik tekhnis dengan dalih bahwa kegunaan republik adalah mengapresiasi “permohonan-permohonan” yang sekuler.

Lihat Juga Berita Terkait Inspektur Jendral :
1 Comments

ART'S EDUCATION Teater Copo Palu 11 - 12 Februari 2012

Art's Education by Theater Copo Palu

Menampilkan :
- Pertunjukan Teater dengan Naskah "INSPEKTUR JENDRAL" 
Karya Besar Dari Nikolay V Gogol, Terjemahan Asrul Sani
Sutradara : "IPIN CEVIN"

Masih adakah Hati mereka ????? Hahahahahaha.....

Mereka yang duduk dengan Kekuasaan, tersenyum lebar melihat kehancuran Negeri ini. Kata-kata yang mereka janjikan hanyalah sebuah FATAMORGANA demi kerakusan diri sendiri. Para Tikus-tikus berdasi semakin gencar menggorogoti Kekayaan Negeri ini. Tanpa ada rasa malu dan Takut, karena Hukum Mampu 'Diperjual belikan'. Para Penguasa-penguasa tertawa dan kenyang, Sementara Rakyat Jelata Merintih dalam kelaparan.

Masih adakah Hati mereka ????? Hahahahahaha.....

ILUSTRASI MUSIK INSPEKTUR JENDRAL

Moh. Izat Gunawan, Seorang yang lahir di tanah Kaili pada tanggal 23 april 1985. Semenjak menikah, telah menetap di Desa Kota Pulu Kecamatan Dolo Kab. Sigi. Menggandrungi Kesenian sejak duduk di Bangku Kelas 2 SMP (1999) dan kemudian Mulai menjadikan Musik sebagai pilihan Kesenian yang hendak ditekuni semenjak Penghujung tahun 2002. “Awalnya saya senang nonton Teater dan Tari, kemudian saya biarkan pilihan-pilihan itu datang sampai saya menyimpulkan bahwa Bunyi-Bunyian lebih membuat saya nyaman”. Musik - Musik Balada dan Etnik memang telah menjadi Background sedari awal Izat Gunawan Bermusik, hal inipun diakuinya akibat pengaruh Sang Paman yang selalu mencurahkan perhatiannya pada Kesenian - Kesenian Tradisi termasuk Musik Tradisi Kaili.

Saya sangat berterima kasih atas tangung jawab yang dipercayakan oleh Ipin Kevin, Sutradara Teater Copo untuk menata ILUSTRASI MUSIK dalam komedi satir nya Nicolai V Gogol dengan judul "INSPEKTUR JENDRAL" yang digarapnya dengan konsep Realis ini.
Pada fungsinya, di beberapa bagian garapan saya tetap menggunakan kehadiran musik sebagai penguat suasana yang dikehendaki Sutradara untuk hadir diatas panggung. Namun garis tragedi yang cenderung tersirat dalam metode penyutradaraan Ipin Kevin kali ini menjadi “keadaan lain” yang ingin saya capai dalam interpretasi kembali terhadap Inspektur Jendral. Hal tersebut kemudian menjadi esensi dari konsep musikal yang ingin ditawarkan.
Pada garapan kali ini Izat Gunawan kembali mempercayakan player pendukungnya pada teman-teman Lawan Catur Ensamble dengan komposisi sebagai berikut :
1. Lead Vocal , Unul
2. Back Vocal , Deita
3. Back Vocal , Riska
4. Zifa, perkusi
5. Zul, Perkusi Dan Instrumen Tiup
6. Memet Linosidiru, Perkusi Dan Instrumen Tiup
Pemain : 
Ulenk Lentera Sebagai Raden Bangga Pribadi (Walikota)
Diah Sintha Permatasari Sebagai Anna Bangga Pribad(Istri Walikota)
- Rismawati Aris Sebagai Marni (Anak Walikota)
Arifin Baderan Sebagai Lucky Sadar Sudarmadji 
Ali Khais Sebagai Udin Lakelle (Kepala Hakim)
Yudha Prawira Sebagai Kusnadi Abdul Kadir (Kepala Kantor Pos Dan Penasehat Pengadilan)
Imam Setiawan Sebagai Lukman Dipraja ( Penilik Sekolah, Konsultan Seni Dan Budaya)
Atriani Ahmad Sebagai Suminah Gasing ( Pengawas Lembaga-Lembaga Sosial)
Wahyu Ahmad Dun Sebagai Doyot ( Pembantu Pribadi Lucky S.S)
Hasby Sebagai Arman (Tuan Tanah)
Ichsanul Amal Sebagai Armin (Rekan Bisnis Pak Walikota)

Sekretariat Teater Copo Palu, Jalan Merpati Lorong Mayapada
Email : teatercopopalu@gmail.com


Untuk Pemesanan Tiket, Bisa Langsung Hubungi Nomor Dibawah :
+6281245171531 (Ipin)
+6285228138246 (Icen)
1 Comments

Komunitas Seni Tadulako Indonesian Music Expo 2011

Persembahan Seni Pertunjukan  

INDONESIAN MUSIC EXPO
NUSA DUA, UBUD BALI  , NOVEMBER 2011
KOMUNITAS SENI TADULAKO : Ide dan Riset/Player :  Hapri Ika Poigi, Dance  & Koreografer, : Emhan Saja, Composer / Player, : Nashir Umar, Player Mohammad Izat Gunawan Habibu, Player : Kalsum Dg Pawindu, Player, : Rafika, Player MECHDAM aLI kHAIS, Player  : Istiqfar Pakamundi , Publikasi JUN

"No Tutura"
"Nyanyian Keselamatan"
"Indoku Bumi Umaku Langi"
"Ondo Lea"

Budaya TuTur To Kaili Sub etnis To Po DA’a Memberikan Ungkapan “Indoku Bumi Uma ku Langi/ Ibuku Bumi , Ayahku Langit “. Merupakan simbol penghargaan terhadap tanah kehidupan dan langit beserta benda-benda di sana, yang memberikan energi bagi kehidupan Manusia Dan Mahluk Lainnya. 
Secara musikal karya ini memaksimalkan satu konsep garapan yang dibagi dalam 3 bagian penting, dimana instrument-instrument yang digunakan bersumber dari realitas khasanah tradisi yang masih berlangsung pada masyarakat adat yang ada pada etnik kaili, selain itu instrument vocal masih menjadi dominan dalam garapan ini yang diilhami oleh spirit nyayian rakyat.

Sebagai proses ritual pada komunitas masyarakt kaili, meyakini bersama tentang hubungan dengan sang pencipta, manusia dan alam sebagai harmoni dalam ritmik kehidupan di alam ini secara bersama-sama. Bagian awal dari garapan ini ingin menunjukan ungkapan rasa syukur melalui prosesi bunyi dan benda-benda.  Merupakan konsepsi hidup masyarakat adat kaili yang mempunyai 3 tiga tungku (Tonda Talusi) yang merupakan kesatuan harmoni antara manusia, alam, dan prilaku. Yang merupakan siklus kehidupan secara rotasi yang dapat menggerakan proses kreatifitas dalam membangun interaksi.  Ondo Lea Mengajak Merenungkan Dan Meredam Keserakahan Diri. berusaha menyerap spirit dalam menjaga keberlangsungan keseimbangan Kehidupan.

3 Comments

Teater Spontan SMAN 1 Palu Rajai FTR 2011

Minggu, 16 Oktober 2011 Pukul 20:00 WITA adalah malam yang paling di tunggu-tunggu oleh para peserta Festival Teater Remaja 2011 untuk menanti hasil dari perjuangan dan proses mereka selama berbulan-bulan. FTR Kali ini dimulai dari tanggal 13 Hingga 15 Oktober 2011 memanfaatkan Gedung Olah Seni (GOLNI). Para Peserta dari sekolah yang berbeda datang berbondong-bondong bersama teman-teman dari masing-masing sekolah untuk memberikan dukungan kepada teman-teman mereka. Penilaian Festival Teater Remaja 2011 Kali ini dilakukan Oleh Para Senior Seniman kita, Yakni Mohammad Nurdiansyah S.Sn, Emhan Saja, dan Azmi Anwar S.Sn. Konsep pembacaan pemenang kali ini agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya,  konsep tahun ini layaknya seperti malam penganugrahan yang mungkin sering kita lihat di Televisi.
Pembukaan di awali dengan sambutan Ketua FTR 2011, Syaifullah atau yang akrab di sapa Ipul. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Dewan Kesenian Palu (DKP), Nirwan Sahiri. Dalam sambutannya sempat mengalami problem, Listrik menjadi turun, tapi itu semua tidak menjadi penghalang. Lampu menyala kembali, acara dilanjutkan dengan pembacaan Surat Keputusan oleh ketiga dewan juri, "Semua penampilan dari teman-teman sangat baik, teruslah berproses, yang paling utama adalah Spirit karena teman-teman telah berani menampilkan karya" Ujar Emhan Saja sebagai salah satu Juri dalam FTR 2011. Setelah pembacaan Surat Keputusan, ada selingan penampilan Musik Kontemporer dari Anantovea yang berjudul "Para Roa Bersenandung", dengan Set seperti Upacara perayaan VUNJA yaitu perayaan Etnis Kaili.
Nah, ini adalah saat yang paling di tunggu oleh teman-teman setelah penampilan dari Anantovea tadi. Diawali dengan pembacaan Artistik Terbaik dan akan di teruskan ke pembacaan Penghargaan lainnya. Teriakan dari masing-masing sekolah membuat Gedung ini terasa bergetar dan Membuat penasaran.

- Penata Artistik Terbaik          : SMA N 1 Palu
- Pembantu Aktor Terbaik       : SMK 3 Palu
- Pembantu Aktris Terbaik       : SMA N 1 Palu
- Aktor Terbaik                       : SMA N 1 Palu
- Aktris Terbaik                       : SMA N 1 Palu
- Sutradara Terbaik                 : SMA N 1 Palu
- Penyaji Terfavorit                  : PGRI
- Penyaji Terfavorit                 : SMA N 1 Palu (Sekaligus Mendapatkan Piala Bergilir dari Dewan Kesenian Palu)

Akhir Kata, "Semuanya terbaik, semuanya terfavorit. Jangan kita di butakan oleh kemenangan. Terus Berproses" Wassalam (Sumber : ichen)
0 Comments

Klinik Film SMA Negeri 1 Palu Yang Ke-2 (2011/2012)

Salam Perfilman Indonesia.
Tahun ini, SMA Negeri 1 Palu kembali mengadakan Klinik Film Yang Kedua kalinya setelah Klinik Film Pertama dilakukan tahun kemarin. Klinik Film tahun ini mempunyai perbedaan dengan tahun kemarin. Tahun ini di buka klinik untuk Penyutradaraan, Editing, Skenario, dan Kameramen. Sedangkan tahun Kemarin cuma di buka untuk Editing saja, Untuk penyutradaraan dan lain-lain belum di buka. Hari pertama Klinik Film Di SMA 1 Palu diawali dengan pengetahuan tentang film dan sesi tanya jawab bebas tentang perfilman yang dibawakan oleh Yusuf Radjamuda atau yang sering kita kenal dengan panggilan Uchup, dan alhamdulillah tidak mempunyai hambatan sedikit pun. Hari Kedua insya allah akan di fokuskan dan semoga berjalan dengan lancar seperti kemarin. Klinik ini Gratis dan dimulai pukul 15:30 Sore Hari.
Untuk Klinik Kamera, kita mengambil tempat diluar ruangan. Praktek sambil Teori, itulah yang dilakukan. Sedangkan Penyutradaraan, Skenario, dan Editing dilakukan di dalam ruangan.
 Klinik Film semacam ini dilakukan untuk mencari bibit-bibit baru dan sineas muda perfilman di indonesia khususnya kota palu. Kota palu juga ingin membuktikan bahwa film kita layak bersaing dengan film-film di luar Palu.  Seperti biasanya, film yang terbaik akan di putar di Gedung Pertunjukan Taman Budaya Palu, dan insya allah bisa di kirimkan ke event-event film nasional.
 Ayo Buat film :)
Penyutradaraan : Eldiansyah ancha Latief
Skenario : Yusuf Radjamuda
Editing : Onqi Bengga
Kamera : Joo Shinjoo
 
Arts Blogs
blog directory
;