Wednesday, 31 October 2012

Suralangi

Mbesa yang umumnya digunakan oleh masyarakat Sulawesi Tengah kini semakin langka kita jumpai di pasar maupun di masyarakat baik untuk diperjual-belikan maupun yang digunakan pada upacara-upacara adat.  Hal ini disebabkanMbesa semakin kurang diproduksi oleh masyarakat dan karena terdesaknya dengan kain dan benang toko yang lebih praktis dan tradisi menenun dewasa ini kurang diminati oleh generasi muda.  Mbesa diberi nama sesuai dengan corak dan motif yang dihasilkan pada waktu menenun dengan mengatur benang lungsi dan benang pakan. Corak-corak ini juga mempunyai hubungan dengan keperluan upacara atau siapa yang akan  memakainya.  Mbesa berarti kuat.  Dipersepsikan bagi yang memakainya atau yang berhubungan langsung dengan mbesa maka akan memberi makna kekuatan dari kain tersebut.  Hampir serupa dengan Buya Sabe,Mbesa pun memiliki tingkatan pemakaian dan tata caranya sendirinya.  Ketika masa kerajaan berkuasa di Sulawesi Tengah, Mbesa menjadi penanda bagi kerajaan untuk memulai peperangan dan upacara adat. Mbesa Maburi adalah penamaan bagi jenis Mbesa yang didominasi berwarna hitam.  Berbeda halnya dengan kain lainnya, jika Buya Sabe yang menjadi penanda tingkat tertingginya adalah subi dan sutranya, sementara Kumpe yang menjadi penanda tingkat tertingginya adalah warnanya dan motif dari ike.  Mbesa dinilai dari penggunaan warna.

SURALANGI

merupakan jenis mbesa yang sudah sangat langka untuk dijumpai saat ini. Suralangi adalah jenis dari Mbesa Maburi, merupakan jenis mbesa yang didominasi warna hitam menjadi penanda tingkat stratifikasi bagi si pemakainya. Suralangi sebagi simbol kekuasaan, keagungan dan keindahan,namun sisi baliknya mbesa jenis ini dianggap sebagai kekuatan roh baik dan jahat yang akan menyatu pada tubuh si pemakai.  Mbesa ini tidak bisa dipakai setiap hari, pada masa kerajaan masih berkuasa di Tanah Kaili, mbesa ini hanya dipakai saat peperangan atau pertemuan Dewan Hadat Pitunggota atau Patanggota. Suralangi bermakna sebagai titisan pelangi tetapi akan menjadi kutukan atau sumber masalah bagi si pemakai.  Menurut mitolongi, bahwa siapa saja yang akan memakai mbesa jenis ini maka ia akan menjadi seorang pemberani dan akan dikagumi oleh banyak orang karena keindahannya namun sayangnya bagi mereka yang pergi berperang akan menjadi kutukan bagi si pemakai.  

Beberapa magau ataupun tadulako yang berperang dengan mengenakan mbesa, maka mereka hanya akan pulang dengan nama.


Konsep egosentris antara perempuan dan sarung begitu kuat dan tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Tenun Ikat Mbesa memiliki konsepsi berbeda terhadap perempuan.  Pada masa kekuasaan Kerajaan masih berlaku di wilayah Sulawesi Tengah, beberapa wilayah kerajaan tersebut memiliki pemimpin seorang perempuan. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi Tengah yang muncul dan berkembang juga diawali dengan perebutan pengaruh dan hegemoni dari berbagai kekuatan. Perebutan yang dimaksud adalah perang antar suku, yang juga dilatarbelakangi oleh unjuk kekuatan suatu kelompok yang kuat untuk memaksa yang lemah agar mengikuti kehendak mereka.  Kerajaan yang ada di Sulawesi Tengah berjumlah 17 buah, yakni Kerajaan Banggai, Buol, Bungku, Banawa, Dolo,Kulawi, Lore, Moutong, Mori, Unauna, Palu, Parigi, Poso, Sigi Biromaru, Tawaili, Todjo, dan Tolitoli.  Pada dasarnya kerajaan yang ada di Sulawesi Tengah merupakam kerajaan dengan bentuk Monorchi Parlementer, karena kekuasaan para raja sangat dibatasi dan ditentukan oleh lembaga demokrasi berupa Dewan Hadat (Kotta Pittu Nggota – Kotta Patta Nggota) dan sejenisnya.


Mengambil 2 wilayah kerjaan di Sulawesi Tengah yakni Kerajaan Banawa dan Tatanga, sama-sama memiliki Dewan Hadat Pitunggota.  Di awal masa kerajaan ketiganya dipimpin oleh perempuan I Tasa Banawa (Magau, 1552 - 1557) dan Ranginggamagi (Magau Tatanga, 1895 – 1903).  Kedua Magau Perempuan ini tidaklah dalam satu wilayah yang berdekatan, tidak memiliki gaya kepemimpinan yang serupa, tidak memiliki rupa ataupun sifat yang sama.  Namun keterikatan mereka terbentuk dari sebuah kain adat Mbesa.  Keduanya memakai Suralangi ketika dilantik menjadi Magau, memakai Suralangi pada saat memimpin penyerangan terhadap Belanda dan memiliki nasib tragis yang sama, berhasil ditangkap oleh Belanda, diasingkan ke Jawa dan kemudian wafat diperasingan.  Masih ada beberapa Magau Perempuan lainnya yang juga menggunakan mbesa Suralangi namun tidak sesering kedua Magau ini dan dari kedua Magau inilah akhirnya kain mbesa tersebut diposisikan sebagai kain adat yang hanya digunakan untuk keperluan adat saja.  Kedua Magau iniilah yang akhirnya mewariskan pada generasinya tata cara pemakaian mbesa kepada perempuan, agar perempuan tersebut menjadi tinggi derajatnya dan juga dihormati oleh siapapun disekitarnya.  Bisa jadi Suralangi menjadi kutukan yang sama bagi kedua Magau Perempuan ini, namun kekuatan dibalik sebuah sarung mencerminkan ketangguhan seorang perempuan yang sebenarnya, karena hanya ditangan seorang perempuanlah kain ini menjadi sebuah simbol bagi kehormatan.

Konsepsi ruang pada pertunjukan ini pada tubuh penari.  Sejarah tubuh perempuan tak lepas dari konsekuensi logis sejarah patriakal (laki-laki) dan ekonomi.  Salah satu bagian tubuh itu adalah warna kulit perempuan serta lapisan luar yang dia pakai.  Identitas tubuh perempuan menjadi seragam dengan merebaknya penanda pakaian ketat.  Tubuh menjadi tidak mengenal dirinya sendiri. Dalam konteks dunia tari, kostum menjadi hal penting bagi koreografer dalam pencapaian ekstetiknya.  Berpola pada ragam gerak kontemporer dengan sumber gerak Salonde dan pola kaki Raego koreografer mempunyai tafsir yang berbeda dalam menyikapi kostum tari sebagai artistik tubuh dalam hal ini adalahMbesa Suralangi.  Apakah kostum dan desain bisa membongkar personalisasi penari agar terbebas dari bentuknya sendiri-menjadi satu kesatuan elemen dari simbol-simbol dan identitas? Dan bagaimanakah perjalanan kreatif kostum dalam menandai dan memaknai tubuh, gerak, cahaya hingga menyatu menjadi satu kesatuan dalam “kostum panggung” (tata rupa panggung)? Sudahkah elemen-elemen costumers, movements, expressions, menjadi satu keutuhan koreografi? Dan bagaimana kostum tari tradisi disikapi dalam perspektif kekinian? dan isuperempuan selalu memiliki dinamikanya sendiri yaitu berusaha menjaga retorika “wanita” dengan semangat yang dikobarkan.

0 Comments:

Post a Comment

 
Arts Blogs
blog directory
;