Wednesday, 12 September 2012

Ritual Adat Kayori

Sekian lama tak terdengar, beberapa waktu lalu masyarakat sub etnis Pendau yang bermukim di kawasan Desa Bayang, tepatnya di Unit Pemukiman Transmigrasi (UPT) Bayang, Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, menggelar ritual Adat Kayori. Ritual ini dimaksudkan selain untuk membangkitkan ingatan warga di lingkungan tersebut akan adat istiadat yang ditinggalkan leluhur mereka, juga dalam upayanya menangkal bencana yang belakangan marak terjadi di berbagai belahan bumi Pertiwi. Yang cukup membuat salut, persiapan seluruh kegiatan tak hanya dilakukan oleh etnis Pendau, namun seluruh warga dari berbagai etnis. Citizen reporter Muhamad Nasrunmenurunkan laporannya.
Ketua Adat Dampelas, Basir Baco Taparang mengatakan, ritual adat Kayori yang baru saja dilaksanakan oleh sub etnis Pendau, hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak warisan nenek moyang suku Pendau. Menurutnya, etnis Dampelas terbagi atas empat sub etnis, yakni Dampelas, Pendau, Lauje, dan Tajio. Lebih lanjut lelaki paruh baya yang telah kehilangan kemampuannya untuk melihat setelah operasi katarak ini menjelaskan, keempat sub etnis tersebut memiliki kekhasan pada bahasa ibu yang mereka pergunakan.
”Seperti halnya etnis Kaili dengan sub etnis seperti Tara, Da’a, Ledo,” ungkapnya. Ketua adat yang akrab disapa dengan nama Kai Basi ini menuturkan, berbagai bencana yang menimpa masyarakat begitu beruntun dan cukup merisaukan. Silih berganti meninggalkan nestapa dan lara yang tiada kira. Bencana dipercaya dikarenakan oleh kemarahan leluhur yang murka melihat generasi penerus mereka mulai melupakan adat istiadat yang diwariskan. Padahal, menurutnya, ada tiga unsur aturan hukum yang mestinya mengikat dalam masyarakat, yakni adat, agama, dan pemerintah. Seperti menguatkan, sekretaris adat Dampelas, Yunus Lahamesang, menyebut hukum yang paling jarang digunakan oleh masyarakat modern adalah hukum adat. Sedangkan menurut Yunus pelaksanaan hukum adat terbukti telah menciptakan masyarakat di masa lalu rukun dan tentram dalam kedamaian.



Seorang warga yang akan diobati.
Foto : Muhamad Nasrun.

Yunus menuturkan, keadaan tersebut tercipta karena masing-masing individu berusaha untuk menaati aturan adat yang ada karena mereka tak menginginkan terkena sanksi sosial yang dampaknya justru lebih berat dirasakan dibandingkan hukuman fisik. Yang lebih memprihatinkan buat kedua pemuka adat tersebut adalah ketiadaan perhatian pemerintah akan keberlangsungan adat mereka. Bahkan dengan sinis Kai Basi menyebut ungkapan ”Tak ada suku terasing atau tertinggal. Karena yang ada, menurutnya suku yang diasingkan atau ditinggalkan”. Yunus mengaku, dirinya beserta seluruh peserta ritual adat tak bisa memakai pakaian adat karena merasa tak mampu menyediakan. Dirinya berharap perhatian pemerintah dapat menyentuh mereka, hingga di masa mendatang masyarakat Pendau dapat memiliki bukan hanya pakaian adat namun juga rumah adat. Yunus berharap agar setiap kegiatan yang berhubungan dengan mereka bisa dilaksanakan di rumah adat, untuk selalu mengingatkan warganya akan pentingnya melestarikan adat.

Ritual Kayori 

Meski bukan satu-satunya etnis penghuni UPT Bayang, Ritual Kayori dilaksanakan karena dari sekian Etnis yang ada, Pendau sebagai etnis lokal belum pernah sekalipun menampilkan khasanah kebudayaan mereka sebagai bagian keragaman kekayaan budaya yang dimiliki dataran Dampelas itu. Ritual yang dilaksanakan sekitar pukul delapan malam itu, diawali dengan penabuhan rebana. Kali ini Kayori dilaksanakan untuk pengobatan kepada salah seorang warga yang diperkirakan mendapat gangguan dari roh jahat. Ritual dipimpin pemangku adat Pendau bernama Latalaha Manduping. Dengan berkeliling pemimpin ritual mengimami barisan penyanyi Kayori, menyenandungkan mantra, doa, dan pujian serta permintaan kesembuhan dengan berbahasa Pendau bagi sang pasien. Pasien sendiri didudukkan di tengah lingkaran penabuh rebana.



Salah satu sesajen.
Foto : Muhamad Nasrun.

Sambil berkeliling, penyanyi Kayori membawa sonasi, nasi yang dimasak dalam bambu, masyarakat luas mengenalnya dengan nasi bambu atau nasi jaha. Senandung Kayori itu berisi penyampaian permintaan maaf warga kepada leluhur, dan pernghormatan terhadap leluhur serta pemangku adat mereka. Selain kepada leluhur, nyanyian permohonan maaf dan pernghormatan tersebut juga ditujukan kepada masyarakat yang turut hadir dalam ritual tersebut. Ritual ini berakhir manakala matahari telah terbit di ufuk timur. Syair yang tak mengalami perubahan sejak pertama kali diperdengarkan tersebut, menurut pengakuan pemangku Adat berasal dari lantunan lagu semacam nina bobo di masa dahulu. Meski demikian ternyata sebagian besar masyarakat Pendau sendiri tidak begitu mengenal nyanyian itu.

Sesaji Untuk Leluhur

Usai penyajian Kayori pada malam hari, siang hari esoknya, ritual dilanjutkan dengan permintaan maaf kepada para leluhur, di tempat-tempat yang dipercayai sebagai tempat hunian ruh nenek moyang masyarakat Pendau. Dengan sesaji dalam tiga ukuran, kecil, tanggung dan besar, seluruh masyarakat menuju tempat yang diyakini menjadi bagian dari tempat leluhur mereka tersebut. Sesajian yang mencerminkan hasil tanah air leluhur di masa lampau ditempatkan dalam wadah sejenis anyaman bambu beralaskan daun. Sonasi yang telah dipersiapkan pada hari sebelumnya digelar bersama berbagai jenis makanan tradisional dalam jumlah yang diperkirakan mencukupi kebutuhan warga yang ikut. Tak ketinggalan beras aneka warna, potongan daging ayam dan telur, sirih, tembakau serta koin kuno ditempatkan pada nampan sajian terkecil ikut melengkapi.



Acara menggiring sesajen.
Foto : Muhamad Nasrun.


Usai menyerahkan sesaji yang diletakkan di nampan terkecil di tempat yang telah ditentukan, giliran sesaji pada nampan besar didoakan dengan mantra sekilas mirip yang terucap pada ritual Kayori. Usai pembacaan doa, tiap orang yang ikut bisa menikmati hidangan dari nampan dengan syarat harus dihabiskan di tempat ritual, tidak boleh dibawa pulang sedikitpun. Untuk selalu mengingatkan, tempat ritual dengan radius 30 meter ke setiap penjuru sebagai tempat bebas dari aktivitas kehidupan manusia. Harapannya agar adat tetap lestari dalam setiap benak generasi penerus. Begitulah cara masyarakat Pendau menghormati para leluhur. Masih banyak adat istiadat lain juga memiliki cara masing-masing untuk menghormati para leluhur.

2 Comments:

Iziyden Arbeideren said...

kerennn

Ichsanul Amal said...

selang beberapa hari kemarin, kita ber-7 (k pay, k kais, om paul, zul, uun, nita) ke desa taripa. K izat dicari sama om paul lee. Eh, k toto juga b cari k izat, katanya mau diskusi mengenai pertunjukan di kotapulu dengan di sibalaya kemarin. Hehehehe....

Post a Comment

 
Arts Blogs
blog directory
;