Friday, 24 February 2012

"TAMBILUGI DANCE" From Palu Performance In Kobe - Japan

Tubuh manusia telah menjadi tari, begitu dia berjalan menghadapi dunia luar yang adalah peta bergerak bagi berbagai simpul kepentingan dan konflik.  Sudah sejak lama manusia begitu tergoda pada tubuhnya sendiri.  Melalui berbagai gelombang peradaban, godaan itu menggiring manusia mencari bayangan sakral serta kepuasan lewat tubuhnya sendiri.  Tubuh manusia adalah medan perang dengan nilai yang bergerak didalamnya, mulai dari soal kegagahan dan kecantikan, ikon, ras, ideologi dan agama. Tubuh manusia tidak hanya untuk berdiri dan jalan, tetapi juga bisa dan sering gemetar. Tubuh yang gemetar inilah yang melahirkan beribu ragam Gerak dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jika biasanya kita melihat tubuh yang gemetar biasa saja, tetapi di Sulawesi Tengah tubuh yang gemetar ataupun Kesurupan menjadi sumber dari lahirnya gerak-gerak Tari. Beragam upacara-upacara adat yang Sakral terdapat di wilayah ini, menganggap bahwa tubuh yang gemetar atau kesurupan melambangkan Keindahan, dinamisasi tubuh dan jika diolah dalam sebuah kajian pertunjukan panggung (Performance Art) maka dapat ditemui Eksotika Tubuh yang sangat indah karena tubuh yang mengalami langsung Kegelisahan menguasai Posisi, yang terus menatap setiap gerakan dan Tindakan. Dalam proses sebuah penggarapan Tari di Sulawesi Tengah (Khususnya etnis Kaili) menggali sumber gerak dari tahapan upacara adat penyembuhan yang telah turun temurun dari leluhurnya. Bagi masyarakat Kaili dikenal suatu upacara penyembuhan adat penyakit yang disebut Balia yang menjadi sumber Inspirasi gerak dari beragam pertunjukan Tari yang telah di ciptakan oleh beberapa Koreografer di Kota Palu.  Pengertian Balia ialah Tantang Dia  (Bali = tantang, ia/iya = dia), yang artinya melawan setan yang telah membawa penyakit dalam tubuh manusia.  Balia dipandang sebagai prajurit kesehatan yang mampu untuk memberantas atau menyembuhkan penyakit baik itu penyakit berat maupun ringan melalui upacara tertentu.  Peserta atau orang-orang yang terlibat dalam upacara (pesakitan) disebut memperata dengan pengertian bahwa memperata adalah proses awal untuk menyiapkan diri dan menerima kehadiran makhluk-makhluk halus kedalam tubuhnya.  Masuk atau tidaknya makhluk-makhluk tersebut ditentukan oleh irama pukulan gimba (gendang), lalove (seruling) yang mengiringi jalannya upacara ini.  Karena itu, agar semua peserta balia bisa kesurupan maka irama gimba, lalove dan gong itu harus berubah-ubah dan bersemangat hingga nantinya peserta balia tersebut akan melakukan gerak-gerak tarian yang kasar, cepat dan tak beraturan dalam kondisi kesurupan.  Pemimpin upacara ini ialah seorang dukun yang biasa disebut Tina Nu Balia yang berpakaian seragam terdiri atas buya (sarung), siga (destar) dan halili (baju dari kain kulit kayu), namun saat ini pemimpin upacara balia lebih sering menggunakan baju model kebaya.


Tambilugi berarti rata atau seimbang. merupakan ragam gerak Salonde pada Balia Tampilangi. Tambilugi begitu penting pada pola gerak gerak kaki dan tangan serta pengolahan nafas. keseimbangan gerak dan gesture dalam ruang kontemporer. Ada begitu banyak gerak-gerak yang tercipta dari upacara ini dan tubuh menjadi sumber utamanya.  Tubuh tari seperti ini membuat kerja koreografi dan kerja tubuh penari mengalami kesulitan besar untuk berhubungan dengan tema-tema tradisi-kontemporer. Jika diolah secara bertahap, gerak-gerak ini sulit untuk diterjemahkan secara cepat.  Hanya beberapa koreografer saja yang sanggup untuk membahasakannya lewat tarian pertunjukkan karena didasari gerakan yang kuat, cepat, lincah dan dinamis serta memposisikan tubuh sebagai objek tunggal bergerak tanpa henti.  Estetika tubuh sangat tergantung dari banyaknya gerakan yang masuk dalam satu komposisi tari.  Wacana tari sulit untuk tumbuh dalam budaya tubuh seperti itu.  Pengaruh kuat modernisasi membawa gerak-gerak yang radikal yang memilik dampak besar bagi sakralnya upacara balia.  Reproduksi sikap tubuh ini, terikat pada teknik, karena tidak mudah untuk membongkar atau mengubah pola tatanan gerak didalam Balia tersebut, dimana dasar gerak melingkar, berpegangan tangan serta menyatukan nafas untuk membawa tubuh ke tingkat ritual yang mendalam dengan kekuatan fisik sang penari tidak bisa dilakukan hanya dengan proses sebentar saja.  Dibutuhkan intensitas dan ketahanan tubuh untuk terus mengikuti jalan gerak yang mengalir. Balia menghadirkan “Tubuh Rakyat” dalam setiap gerakannya yang bernilai magis, masih bersifat tradisi.



Para koreografer/penata tari akan memutar otaknya setiap kali mengikuti pesta tari atau festival tari untuk mengeluarkan secara paksa kekayaan tradisi Balia.  Bahwa tubuh penari hampir kehilangan kosmologinya jika “Tubuh Mitos” dalam unsur gerak balia dihadirkan dalum balutan Tradisi-Kontemporer diatas panggung pertunjukkan, namun tidak dapat dipungkiri masuknya modernisasi ke dalam unsur gerak Balia melahirkan eksotika tubuh yang lebih bernilai. Kepuasan tubuh dalam mengeksplorasi sumber gerak Balia, tidak dapat ditutupi dari keseragaman penari dan upaya memaksimalkan tubuh untuk bergerak secara total. Tubuh siap Menerima Teknik Dan Memakai Kostum Tradisi Apa Pun,, Karena Tubuh pun Telah Mengalami Transformasi  lewat Tradisi. Fenomena ini menunjukkan betapa sebuah kerja koreografi tidaklah sama dengan kerja antropologi.  Begitu juga dunia tari tidak harus mengorbankan dirinya sebagai panggung antropolog yang artifisial, walaupun pasar membutuhkannya. Dunia tari –yang dianggap sebagai seni yang paling dekat dengan manusia, karena menggunakan tubuh- punya masalah yang jauh lebih rumit dari bidang seni lainnya. Balia telah menjadi fenomena dipanggung tari dan ditansformasikan kedalam konsep kekinian atau yang dinamakan kontemporer.  Balia tak lagi ditarikan secara serempak (massal), tetapi lebih banyak ditarikan secara tunggal ataupun berkelompok ( hanya 5 - 7 penari) berusaha untuk mengubah tradisi.  Kehadiran Performance Art, menjadi wacana baru bagi dunia tari khususnya tradisi yang mencoba masuk untuk menyatu dalam konsep tari modern.  Bagaimana menjadikan balia sebagai unsur gerak tradisi yang tak lepas dari estetika tubuh penari dalam pandangan modernisasi pada panggung-panggung Seni Pertunjukan


Artikel Terkait :
http://iinainardanceworker.blogspot.com/

1 Comments:

PAK JUNAIDI said...


SAYA SANGAT BERSYUKUR ATAS REJEKI YANG DIBERIKAN KEPADA SAYA DAN INI TIDAK PERNAH TERBAYANKAN OLEH SAYA KALAU SAYA BISA SEPERTI INI,INI SEMUA BERKAT BANTUAN MBAH RAWA GUMPALA YANG TELAH MEMBANTU SAYA MELALUI NOMOR TOGEL DAN DANA GHAIB,KINI SAYA SUDAH BISA MELUNASI SEMUA HUTANG-HUTANG SAYA BAHKAN SAYA JUGA SUDAH BISA MEMBANGUN HOTEL BERBINTANG DI DAERAH SOLO DAN INI SEMUA ATAS BANTUAN MBAH RAWA GUMPALA,SAYA TIDAK AKAN PERNAH MELUPAKA JASA BELIAU DAN BAGI ANDA YANG INGIN DIBANTU OLEH RAWA GUMPALA MASALAH NOMOR ATAU DANA GHAIB SILAHKAN HUBUNGI SAJA BELIAU DI 085 316 106 111 SEKALI LAGI TERIMAKASIH YAA MBAH DAN PERLU ANDA KETAHUI KALAU MBAH RAWA GUMPALA HANYA MEMBANTU ORANG YANG BENAR-BANAR SERIUS,SAYA ATAS NAMA PAK JUNAIDI DARI SOLO DAN INI BENAR-BENAR KISAH NYATA DARI SAYA.BAGI YANG PUNYA RUM TERIMAKASIH ATAS TUMPANGANNYA.. BUKA DANA GHAIB MBAH RAWA GUNPALA

Post a Comment

 
Arts Blogs
blog directory
;