Saturday, 24 December 2011 0 Comments

Foto - Foto Pemenang National Geoghraphy Photo Contest 2011

20 Ribu Foto telah di kumpulkan dari 130 Negara. Mereka bersaing untuk menjadi yang terbaik. Inilah hasilnya, 15 Foto menakjubkan dalam ajang National Geoghraphy Photo Contest 2011. 15 Foto ini juga mendapatkan penghargaan dalam ajang tersebut. Dan lebih menakjubkan lagi, Juara satunya di ambil dari Indonesia, dengan Judul Foto Splashing, Fotografer Shikhei Goh (Batam - Indonesia), Mendapatkan Grand Prize Dan Pemenang Kategori Alam


1.  Judul : Splashing, Fotografer :Shikhei Goh, Batam - Indonesia, Grand Prize Dan Pemenang Kategori Alam


2. Judul : The Fjellman Family, Fotografer : Izabelle Nordfjell, Lapland - Swedia, Pemenang Kategori Orang


3. Judul : Sulfuric Fire Festival, Fotografer : Hung-Hsiu Shih,  Taipei,  Honorable Mention Kategori Tempat


4. Judul : Blue Pond & First Snow, Fotografer : Kent Shiraishi, Hokkaido - Jepang, Honorable, Mention Kategori Alam


5. Judul : Zombies, Brisbane, Fotografer : Lisa Clarke, Brisbane - Australia,  Honorable Mention Kategori Alam


6. Judul : Cyber Monsoon, Fotografer : Anuar Patjane, Bhaktapur - Nepal, Honorable Mention Kategori Tempat


7. Judul : Panic in the Pan, Fotografer : Marius Coetzee, Taman Nasional Serengeti - Tanzania, Honorable Mention Kategori Alam


8. Judul : Flying Kites, Fotografer : Felipe Carvalho, Santa Marta - Rio de Janerio, Honorable, Mention Kategori Tempat


9. Judul : Sunrising Jellyfish, Fotografer :  Angel Fitor, Laguna pesisir Mar Menor - Spanyol, Honorable Mention Kategori Alam


10. Judul : Auburn Pride, Fotografer : George Voulgaropoulos, Sydney - Australia, Honorable Mention Kategori Orang


11. Judul : The Hunt, Fotografer : Stefano Pesarelli, Masai Mara - Kenya, Honorable Mention Kategori Alam


12. Judul : Waterway to Orbit, Fotografer : James Vernacotola, Ponte Vedra - Florida, Honorable Mention Kategori Tempat


13. Judul : Beluga whales in the arctic having fun, Fotografer : Dafna Ben Nun, Kutub Utara, Pilihan Pengunjung Kategori Alam


14. Judul : From Up Here, Fotografer : Helen Pearson, Manhattan - New York - Amerika Serikat, Honorable Mention Kategori Orang


15. Judul : Into the Green Zone, Fotografer : George Tapan, Pulau Onuk - Filipina, Pemenang Kategori Tempat

Saturday, 10 December 2011 0 Comments

Lovetrust Project-Poetry Jam Session

Pada 1 Oktober 2011, kunjungan Katrine May Hansen di Kota Palu diramaikan dengan 2 event, yakni Diskusi Inspiratif Menulis Kreatif pada jam 13:30 – 16:00 di Zaya Cafe, dan Poetry Jam Session pada jam 20:00 – 22:00 di Gedoeng Joeang.
Melanjutkan acara sebelumnya, Nombaca menghadirkan sebuah event sastra yang tidak seperti biasanya. Teras Gedoeng Joeang pada Sabtu malam itu dihiasi dengan hidangan tradisional khas Indonesia. Entah dari mana asal-muasal gerobak Kacang Rebus, yang jelas pada malam itu sebuah gerobak Kacang Rebus telah berdiri dari barat ke timur di teras Gedoeng Joeang dan siap dinikmati siapa saja yang menyaksikan pertunjukan malam itu. Di sisi utara, sebuah meja tertata mesra dengan gelas-gelas air mineral dan makanan ringan khas Kota Palu, Pisang Goreng. Untuk melengkapi kehangatan cinta, di sisi timur 2 buah termos cinta berisikan kopi dan teh tersedia. Tidak ada hidangan yang membisu, semuanya berinteraksi dengan mesra memeriahkan kehangatan cinta Lovetrust Project.
Neni Muhidin, seorang sastrawan yang juga komandan komunitas literasi Nombaca memimpin acara Poetry Jam Session. Di awal sesi ia menceritakan mengenai Lovetrust Project dan Katerine May Hansen. Neni pun menjelaskan pesan apa yang tersirat dari kegiatan di Sabtu malam itu, bahwa acara tersebut terselenggara melalui semangat gotong-royong khas Indonesia. Masing-masing sahabat memberikan kontribusi baik sound system, lighting, konsumsi, dan lainnya. Bahwa kita masih memiliki kekuatan kebersamaan, dan suasana itu harus terus ditumbuhkan di setiap kegiatan seni di Kota Palu.
Sesi pertama diwarnai dengan performance Hudan Nur dan Izat G. Lapute. Sebagai perwakilan KSI di Kota Palu, Hudan Nur menampilkan sajaknya yang berjudul Nobangu Batara’ dengan memainkan intonasi dan aksennya yang khas. Izat dengan kelembutan Lalove mendampinginya selama 5 menit, penampilan mereka berdua mengingatkan kita bahwa kultur verbal Kota Palu juga dapat ditransfer ke dalam seni sastra puisi. That is the true first impression of event. Selanjutnya Bu Masamah Amin Syam tampil dengan membawakan sajaknya yang berjudul Peradaban Luka. Wanita paruh baya ini dikenal prolifik untuk menulis, karyanya telah terbit di berbagai koran harian Kota Palu dan bukunya Ilustrasi Politik Kancil. Nombaca menyajikan kolaborasi lintas generasi, dan puisi Bu Mas’ama masih dalam tema cinta.
Mewakili generasi muda, Soraya Pinta Rama menampilkan sastra puisi digital berjudul “Kopi Setengah fiksi”. Semua mata tertuju padanya, Pinta yang dikenal sebagai jurnalis media on-line anak muda kota palu-StepMagz ternyata memiliki kapabilitas bius yang kuat. Pada moment itu ia menampilkan puisi yang dikolaborasikan dengan tampilan multimedia yang sangat estetis. “Kopi”, keabrabannya dengan kopi telah membuatnya menari lincah dalam dunia kreatif. Kata demi kata dalam sajaknya menstimulasi audiensi untuk belajar jujur terhadap diri sendiri. Kopi adalah sahabat dalam proses kreatifnya, segala perasaan yang tertuang dalam tulisannya senantiasa ditemani kopi.
Tak ketinggalan, lelaki matang yang bernama Satries pun tampil dengan sajak-sajaknya Senja Di Kota Palu, Balada Sungai Palu, Pesona Seni dan Penjaga Dian. Sesi ini bagi audiensi adalah sesi “menggelitik”, bagaimana tidak, Pak Satries selalu memaparkan prolog panjang sebelum pembacaan puisi. Itulah Pak Satries, seorang sastrawan puisi yang unik. Neni sebagai host menyeletuk sesudah penampilannya, bahwa jika ingin mengenal Pak Satries sebaiknya baca karyanya saja, tidak perlu bertemu langsung dengan orangnya. Benar-benar menggelitik.
Giliran berikutnya adalah pelaku sastra dari Denmark, siapa lagi jika bukan seorang wanita yang bernama Katrine May Hansen. Dengan gayanya yang lembut, ia membacakan sajak-sajaknya yang pasti bertemakan cinta. Puisi pertamanya adalah Kenya 6, dalam puisi ini beberapa kali ia menyebut nama Bob Marley dan ia juga mengutip lirik ‘cause every little thing’s gonna be all right. Puisi selanjutnya adalah Tiny Ghost, Defending the Night, The Likes of Us, Free Folk, Better of Fool, Indonesia 9, dan Fearess in the Night. Sebagai kelanjutan di kegiatan sebelumnya, Katrine membacakan If I Go Blind, sebuah puisi dokumentasi pengalamannya tatkala ia menjalani operasi mata beberapa tahun silam.Berikutnya ia membacakan puisi mengenai Neil Young dan Indonesia 5. Betapa kuat relasional Katrine dengan Indonesia, tidak hanya puisi, malam itu ia juga mengenakan busana batik. Rasanya cukup, penampilan Katerine pada sesi itu cukup mengobati jiwa-jiwa yang galau di dalam Gedoeng Joeang Kota Palu.
Pak Hapri Ika Poigei, pendiri Yayasan Tadulakota’ juga tampil membacakan puisi yang baru saja dibuatnya sore sebelum acara. Dan yang menarik, Pak Hapri mengajak Katrine untuk membacakan puisi “Aku” karya Chairil Anwar. Katrine mengawali dengan membaca terjemahan bahasa Denmark, kemudian Pak Hapri melanjutkannya dengan bahasa aslinya.
Bagi pengunjung acara, ada satu penampilan yang tidak lazim, yakni penampilan Endeng Mursalin dengan puisi eksperimentalnya. Neni mengatakan bahwa kesan malam itu tidak mungkin dapat dilupakan Katerine tatkala tiba di negerinya, penampilan Endeng Mursalin pasti berkesan baginya. Semakin menggelitik saja. Selanjutnya pembacaan puisi oleh Hanafi Sarro, Eman Saja, dan Zulkifli Pagesa dengan puisi eskperimennya People Love Weapon.
Sabtu malam, 1 Oktober 2011, rangkaian poetry jam session telah berakhir dan tibalah waktu berpisah. Sekali lagi, Nombaca sebagai komunitas literasi Kota Palu menyatakan apresiasi sebesar-besarnya kepada seluruh pendukung acara. Semoga event-event kreatif semakin mewabah di Kota Palu untuk terus menyemangati kita agar semakin mencintai negeri ini, seperti ungkapan Katrine dalam puisi Indonesia 3; I couldn’t have gone anywhere else, and kept my sanity. This is the land of humanity, this is the people of the gecko and the smile, this is my cradle of reality.  Salam Nombaca! Bantu Literasi Kota Palu. (Rachmad Ibrahim)
0 Comments

Antara Penonton Cerdas dan Film Bermutu




foto: www.deviantart.com
Perkemabangan film di Indonesia kian hari kian pesat. Tiap tahunnya Indonesia mampu menghasilkan sejumlah film dengan berbagai genre. Menbudpar RI optimis menyebutkan tahun 2011 film yang diproduksi bisa mencapai 100 per judul dan tahun 2014, Indonesia pantas memiliki 200 judul pertahun (smuber  online).
Indonesia boleh bangga karena mampu bangkit dari mati suri dunia perfilman, namun Indonesia juga harus waspada film-film yang beredar tergolong film yang tidak bemutu. Secara kuantitas boleh mengejutkan, akan tetapi jika kualitasnya jelek maka tentu saja tak akan menghasilkan apa-apa bagi perkembangan moral dan budaya bangsa.
Kita boleh bangga dengan sejumlah film-film sineas muda Indonesia yang menjadi box office di tanah air. Ada Laskar Pelangi yang kuat dengan pesan pendidikannya, ada Wanita Berkalung Sorban yang mengusung kesetaraan gender, dan lain sebagainya. Akantetapi kita juga tidak bisa pungkiri kalau Suster Keramas, Menculik Miyabi, Pocong Ngesot, Kuntilanak Kesurupan dan film-film sejenis juga mendapatkan perhatian yang besar dari masyarakat. Dan sudah bisa dipastikan film tersebut jauh dari nilai pendidikan budaya bangsa. Bahkan, faktanya dominan masyarakat cenderung menyukai film-film yang demikian.
Apa yang terjadi? Apakah masyarakat memang benar-benar gemar dengan film-film berbau horror dan cenderung menyukai film yang kurang bermutu? Apakah memang pilihan yang tersedia di dominasi film yang demikian? Ataukah masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan mengenai film yang layak tonton? Dari semua permasalahan tersebut, pilihan terakhir mungkin merupakan hal yang jarang disadari. Pengetahuan masyarakat akan film bermutu pada umumnya sangat kurang, sehingga berpengaruh pada selera film yang ingin mereka saksikan. Alhasil, film-film berbau horror dengan dominan unsur seks menjadi primadona.
Hal ini, tentu saja akan berpengaruh terhadap jenis film yang diproduksi. Sebab, tak bisa dipungkiri industri perfilman merupakan dunia bisnis. Para produser hanya akan membiaya film dengan jumlah penikmat yang banyak. Nah, coba bayangkan jika penonton cerdas dalam memilih film yang bermutu. Film-film yang bermuatan nilai budaya bangsa, dan sarat akan nilai-nilai pendidikan, serta moral. Atau film-film dengan tema sejarah dan perjuangan yang konon memakan biaya yang tidak sedikit, maka sudah bisa dipastikan film-film berkualitas akan merajai tanah air. Sebaliknya, jika film-film yang hanya menyajikan adegan seks dan kekerasan serta mistis, yang paling banyak digemari. Maka, tentu saja akan semakin banyak film-film yang bergendre demikian yang diproduksi.
Harapannya, Indonesia akan memiliki film yang tidak hanya memberikan hiburan, akan tetapi juga dapat memberikan pemahaman akan nilai-nilai yang dianut bangsa ini. Dan tidak menuntut kemungkinan film Indonesia memiliki cirri khas tersendiri di mata dunia, seperti halnya film asal Bollywood yang begitu dikenal masyarakat dunia.
Jika penontonnya pintar, maka mereka akan memilih film yang bermutu. Hal ini akan berpengaruh terhadap film-film yang tidak bermutu. Jika film bermutu tidak ada yang minati, produser mana yang mau memproduksi. Simpel kan! Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Mukhlis Pa’Eni yang merupakan Ketua Lembaga Sensor Film dalam kegiatan Pekan Nasional Cinta Budaya (PENTAS) beberapa waktu yang lalu. Menurtunya, penonton itu harus cerdas agar mereka lebih selektif dalam memilih film yang bermutu. Kalau penontonya cerdas, maka akan berpengaruh terhadap film yang diproduksi. Mana ada produser yang mau membiayai film yang tidak memiliki penonton, tuturnya. Kemudian, Dr. Mukhlis Pa’Eni menambahkan, kami medorong agar produser memiliki basis lokalitas yang bagus. Dari khasana sejarah, budaya, dan tradisi yang ada di negeri kita. Dengan demikian, sudah saatnya film-film Indonesia mengangkat budaya lokal. Sebab, film yang membutuhkan budget di atas 20 M tersebut realitasnya masih sangat sedikit diminati oleh masyarakat kita (adhe).
0 Comments

LOVETRUST PROJECT-Diskusi Inspiratif Menulis Kreatif




Perkenalan Lovetrust Project  Berawal dari ide penyatuan dua kata, love dan trust, Katerine May Hansen mempertegas petualangannya untuk melakukan investigasi ke berbagai negara untuk membuktikan cinta sebagai kausalitas cinta yang universal.
Wanita berdarah Denmark yang lahir pada tahun 1979 ini untuk ke sekian kali mengunjungi Indonesia. Kota Palu merupakan salah satu tujuan kunjungannya dalam Lovetrust Project dan Nombaca sebagai komunitas literasi media Kota Palu dipercayakan untuk menjadi promotor event pada tanggal 1 Oktober 2011.
Untuk memfasilitasi antusias peminat sastra di Kota Palu, Nombaca yang dipimpin oleh Neni Muhidin menyelenggarakan dua event, yaitu Diskusi Inspiratif Menulis Kreatif dan Poetry Jam Session. Zaya cafe terpilih sebagai venue acara Diskusi Inspiratif Menulis Kreatif, tepatnya pada Sabtu 1 Oktober 2011 jam 13:30 hingga 16:00.


Katrine May Hansen membagi pengalamannya dalam menulis
Pada event pertama, Katerine May Hansen memperkenalkan dirinya dan segala aktivitas kreatifnya dalam sastra dengan dibantu seorang translater/interpreter dari Magelang, yakni Muflihah. Ibarat satu tubuh, Katrine dan puisinya adalah sebuah asosiasi manifestasi cinta. Dan memang sosok seperti ini sangat dinantikan oleh para penikmat sastra yang selalu galau dalam pergumulan cinta di Kota Palu.
Mengawali diskusi singkat dan berkesan di Zaya Cafe, Katrine menyatakan bahwa bahasa bukanlah satu-satunya media komunikasi cinta, karena hanya perasaan cinta yang sanggup memediasi persoalan cinta. Tambahnya, perbedaan latar belakang semua negara memang berbeda, namun pasti setiap manusia memiliki sebuah perasaan yang sama. Histories are different, but feelings are same.
Culture Shock, Awal Petualangan
Katrine menceritakan keterbelakangannya di masa kecil hingga masa kehilangan ayah yang dicintainya. Sejak usia 13 tahun, ia memberanikan diri untuk melakukan traveling lintas kota di Denmark. Setelah kematian ayahnya, Katrine merasakan kehampaan yang mendalam, rasa kehilangan begitu besar sehingga hari-hari yang dilaluinya selalu dihantui oleh kesedihan yang seolah-olah tak berujung. Kala itu, ia bertarung dan bergumul dengan kesedihan intrapersonal yang terus dihadapinya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi semua itu dan berkomitmen untuk mengawali petualangan investigasi cinta ke berbagai belahan dunia.
What if happened if i allow the guilty? It is true that i am sad, and that is all the truth. What will happened if i capture all those feelings in one feeling. Love is not what i thought what would be. Because love base of what imagine and happening. Demikian komitmen Katrine di saat-saat ia terpenjara dalam atmosfir kesedihan sepeninggal ayahnya.
Pada kunjungan pertamanya di Indonesia 10 tahun silam, Katerine sangat kaget, ia mengalamiculture shock. Apalagi, dalam kunjungan tersebut ia juga memberanikan diri untuk mengamati langsung dampak kerusuhan yang terjadi di Poso. Kala itu ia bertualang sendirian dan dalam keadaan hamil, betapa besar motivasi cinta yang ada dalam dirinya sehingga menyemangatinya untuk mendokumentasikan kejadian-kejadian konflik sosial di Poso. Inilah ciri khas Katrine May Hansen, puisi-puisi yang ditulisnya bukanlah data kognitif, puisi-puisinya adalah dokumentasi empiris yang dialaminya, semua kata yang ditulisnya terintegritas dalam semangat cinta dan perdamaian.
Katrine sangat terbuka dengan audiensi, ia menyatakan bahwa Lovetrust Project adalah sebuah pelariannya dari masa lalu yang menyedihkan. Dan dalam pelarian ini ia ingin berbagi cerita dan spirit kepada orang-orang yang ditemuinya untuk menceritakan hasil investigasi cinta yang dilakukannya. Harapan terbesar Katrine adalah terbangunnya kesadaran primordial dalam diri semua manusia, bahwa cinta adalah solusi dari segala persoalan yang dihadapi. Dan Katrine mengajak semua orang yang ditemuinya untuk membuka diri dan berkomunikasi antara satu sama lain dengan segenap rasa cinta.
Ia menambahkan bahwa diskusi Lovetrust Project tidak berbasis pada misi keagamaan dan kebudayaan, Lovetrust Project menjaga kemurnian cinta dari segala kepentingan. Ia mengajak segenap audiensi untuk belajar mendengar dan memahami satu sama lain, dan meninggalkan segala arogansi dalam diskusi. Kebahagiaan hanya dapat terwujud dalam kebersamaan, dan cinta di setiap saat harus dirayakan dengan semangat kebersamaan. Baginya, pemerintahan tidak akan sanggup menciptakan perdamaian, melainkan orang-orang yang memiliki kekuatan cintalah yang sanggup melakukannya, tentunya dengan diskusi seperti Lovetrust Project.
Kartu Pos dan Lovetrust Project
Keunikan Katrine May Hansen adalah pemilihan kartu pos sebagai media penerbitan puisinya. Baginya, postcard adalah salah satu alternatif media puisi karena kebanyakan orang enggan membaca buku. Ia pun menggunakan internet untuk menyebarkan puisi-puisinya dalam format kartu pos. Poetry must be precise as possible and must be simple, tegas Katrine.
Untuk memudahkan penikmat puisi, Katrine berupaya semaksimal mungkin untuk menulis dalam bahasa Inggris, meskipun baginya bahasa Inggris adalah bahasa asing bagi warga Denmark. Ia selalu ditemani kamus bahasa Inggris demi menjaga konsistensi kejelasan dan kesederhanaan kata dalam puisinya.


Diskusi Proses Menulis Kreatif
Proses Menulis
Menanggapi pertanyaan dari salah satu audiensi, Katrine menjelaskan mengenai proses kreatif menulis puisi. Beberapa aturan dibuatnya untuk menjaga konsistensi penulisan. Biasanya Katrine menulis jurnal, bukan diary, jurnal tersebut ditulisnya hingga penuh satu buku. Kemudian buku tersebut disimpannya selama sebulan bahkan hingga 1 tahun, jurnal tersebut kemudian ditransfer ke dalam puisi. Metode seperti ini lazim ditemui di banyak penulis puisi.
Kala tertentu ia menerapkan aturan bahwa puisi harus ditulis dengan awalan huruf T, namun ketika ia menemukan banyak kendala, maka ia memutuskan untuk melanggar aturan tersebut dan mempersilahkan kreatifitas yang tersedia dalam otaknya untuk bergerak bebas mengarahkan jari-jemarinya menuangkan ide dalam puisi, salah satu contohnya adalah puisinya yang berjudul “Orang”.
Write whenever, every single moment must be written. Baginya pena dan kertas adalah sahabat sejati, jangan pernah menyiakan waktu untuk menangkap semua kejadian yang ditemui ke dalam tulisan. Karena memory otak manusia sangat terbatas untuk merekam aneka kejadian yang terjadi dalam suatu waktu yang bersamaan.
Puisi adalah alat universal untuk mendokumentasikan inspirasi yang kerap bersumber dari persoalan agama dan budaya. Indonesia adalah negara yang akrab dengan Katrine, beberapa waktu lalu ia berkolaborasi dengan dosen sastra di Jember untuk menerbitkan sebuah buku Kaleidoskop puisi yang berbahasa Inggris dan Indonesia.
Aku, Chairil Anwar sebagai Penutup
Kegalauan telah terobati sedikit demi sedikit karena audiensi yang hadir pada saat itu merasakan kemudahan berintreaksi selama prosesi acara karena kehadiran Muflihah sebagai translater/interpreter. Beberapa perwakilan komunitas sastra hadir dan menikmati kehangatan cinta yang dipresentasikan Katrine. Dan di akhir presentasinya, Katrine membacakan sajak Chairil Anwar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Danish, sebuah puisi fenomenal yang berjudul “Aku”.
Tak terasa, diskusi Lovetrust Project telah berlangsung selama 2,5 jam. Rasanya masih banyak hal-hal yang perlu didiskusikan, namun keterbatasan waktu dan tuntutan persiapan lanjutan kegiatan di malam hari telah memaksa segenap sahabat yang hadir di Zaya untuk mengakhiri diskusi di Sabtu itu.
Nombaca sebagai komunitas literasi Kota Palu telah memberikan stimulus bagi masyarakat Kota Palu. Tidak ada harapan agung dari Nombaca, adalah harapan sederhana yang ingin tercapai, yakni Kota Palu dapat dihiasi dengan kreatifitas yang berbasis pada diskusi yang terbuka dan penuh kehangatan cinta. Kota Palu suatu saat akan mengalami rintik hujan yang bersumber dari kondensasi kreatifitas masyarakatnya. Hembusan angin cinta akan membawa hujan itu ke wilayah-wilayah yang gersang dan hampa. Dan hujan itu akan membasahi jiwa-jiwa yang galau. Semarakan Cinta! Bantu Literasi Kota Palu! (Rachmad Ibrahim)
0 Comments

Kota Ini Tidak Maju Dengan Sendirinya



Selasa, 27 September 2011..
Hari ini kota kelahiran saya genap berusia 33 Tahun, begitu banyak harapan-harapan sederhana maupun harapan tidak sederhana untuk kota ini. Salah satu misalnya berharap Palu ini bersih.
Saya jadi teringat obrol-obrol saya dengan teman di stepmagz.com Angga Dharmawan, obrolan di Pantai Talise sesaat setelah mengikuti Pembukaan Festival Teluk Palu 2011 beberapa waktu lalu.

Setelah liat-liat pantai, iseng saya tanya begini “Kenapa pantai ini bisa kotor ??” dia jawab “ini karena kebiasaan buang sampah sembarangan” nah sesederhana itu jawabannya, berarti pada dasarnya orang-orang mengerti pantai Talise itu kotor karena apa ? Apa yang harus dilakukan ? Dan apa yang tidak lakukan supaya pantai tidak kotor.. Tapi tetap saja ada yang bikin kotor kotanya sendiri..
Setelah saya pikir-pikir, satu hal yg saya sadari adalah kita belum mencintai kota ini.. Ya, kota ini belum dicintai warganya, kalo cinta kota ini tidak mungkin akan ada yang buang sampah di got, tidak akan ada orang naik mobil buang sampah seenaknya di jalan, dsb.
Apa yang kita cinta pasti akan kita jaga dan pasti akan kita rawat. Begitu sederhananya.
Bagaimana peran pemerintah Kota Palu ??
Pemerintah kota hadir dengan kampanye Green and Clean. Sebenarnya saya agak-agak kurang mengerti dengan pemilihan kampanye “bersih2 kota” ini dengan menggunakan bahasa Inggris apakah karena bahasa Inggris lebih efektif dibanding bahasa Indonesia ? atau mungkin karena sekedar gaya-gayaan biar dibilang keren ? karena yang pasti pake bahasa Indonesia pun kampanye itu masih susah dimengerti dan diterapkan. Ya sudahlah.. tidak perlu dimasalahkan, pemilihan kosakata tidaklah terlalu penting (apalagi pemilihan sepasang Duta Green and Clean, itu malah lebih tidak penting lagi..hhe) yang penting itu bagaimana pola penerapan kampanye, sudah sejauh mana efektivitasnya, pengawasannya dan evaluasi dari Pemkot dan warganya.
Oh iya, sering kali masih ada saja saya temukan orang Palu yang suka membanding-bandingkan perkembangan kota ini dengan kota lain.. Apalagi dibandingkan dengan Jakarta, Bandung, Surabaya atau Makassar.. Ehem, ya iyalaaah Palu itu perkembangannya masih jauh di bawah. Sekali-sekali mikir kenapa sih. Kalo bisa (ini juga kalo bisa) mulai sekarang berhentilah membanding-bandingkan kota ini dengan kota lain, berhentilah menjelek-jelekkan kota ini, berhentilah mengeluh dengan kota ini. Semua itu tidak akan serta merta membuat maju kota ini. Lain halnya dengan kritik, kita masih bisa membedakannya.
Saya sadar mungkin saya juga belum memberikan sumbangsih apa-apa untuk kota ini, tapi paling tidak saya tetap berusaha jadi orang Palu yang optimis. Suatu saat kita juga bisa sejajar dengan kota-kota yg kalian banding-bandingkan itu.
Selamat ulang tahun kota Palu, semoga lebih baik. Saya mencintai kota ini dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Satu yang mesti dimengerti bahwa kota ini tidak akan maju dengan sendirinya, sekali lagi kota ini tdk akan maju dengan sendirinya. Sekian..
Salandoa..
(Pays Aprianto)
0 Comments

PFF: Ramai Dengan Penonton Pelajar




The day was not friendly. Rain fell for a moment, then stopped, but soon returned with the swift fall from the sky. That does not stop Hammer Film Festival organizers to continue implement the activity. In fact, koorditor activities, Anca Eldiansyah Latif, seemingly calm.

Hammer Performance Building Cultural Park to place the event activity of PFF still looks deserted. The pews are still empty, only a few people who seemingly are busy preparing for projector and laptop. However, shortly afterwards a voice sounded noisy teenagers broke the silence. They are, the longer the number of teen-increasingly crowded into the building. With two-and four-wheeled vehicles in droves to places of PFF.

They are high school students in the city of Palu. That night, they look so excited. Comes with a variety of performances and the excitement of today's teenagers. Approximately five pulu people do not forget the student, before they sat on a bench, they capture the moment via a camera phone. There snap, snap ... here!

That day, 16 September 2011, recorded as early as the first time PFF implemented. This is not intended that Hammer as one of the city that has filmmakers, young filmmakers are talented, have an annual event that can appreciate the work of young creative cinematographer of short films from the city of Palu, and also the work of filmmakers from all over Indonesia. In fact, Head of Culture and Tourism of Palu in his speech, clearly very supportive of such activities. And look forward each year to be held on a regular basis.

The presence of youth (students) at the PFF, gives one hope for the development of film in the city of Palu. One student, Nurul, a State high school students revealed that Palu PFF which were extremely good. We can take the positives from the movies we watch. Continue, we become know the movies of Hammer and directed by children from outside the hammer, he added.

PFF this time presenting short films that won awards in various film festival. Hammer two children's film that is similar but not identical (Goddess Jackie) and the Wrong Day (Joseph Radjamuda), PFF also helped enliven this time. Today, 17 September, PFF will again presents four short films that is best Gara Gara-Flag, Ramadan Charity Box, Fullan, and Territorial Pissing. Later will be coupled with a discussion on the theme "A Critical Reading Through the Short Film" which will be attended by film makers, Cultural, and Historic pff film as a speaker at this evening. So let us support Palu Fim Festival to present at the last screening of short film works as a token of appreciation we are in the film City of Palu. Bravo! (Adhe / pleaded)
0 Comments

Free Event: Palu Film Festival



Hammer Film Festival, an event is the first film festival in the city of Palu. This event is one of a series of events dedicated Palu Bay Festival of Culture and Tourism of Palu City, 16-18 September 2011.

Hammer Film Festival event itself will be held at the Cultural Park Palu building for two days 16-17 September 2011 at 20.00 s / d 22:00 which will display the works of young creative short film cinematographer Indonesia. Not only is the work of young filmmakers of the hammer, but also will show short films from filmmakers from Jakarta and Yogyakarta.

"Yes we will play short films from filmmakers outside the city of Palu, who hopes this could be a reference to my friends in Palu in making short films. Because of the short film does have the quality, "said Latif Eldiansyah Ancha as Hammer Film Festival Coordinator.

In addition to screenings of short films, on the second day of Hammer Film Festival will be coupled with a brief discussion of "critical reading of the chamber through the short film" which will be attended by a short film maker, cultural, and observers Film as a speaker at the discussion.

"I hope after this event, all the people could give a greater appreciation of the works of Short Films that will give birth to more and more filmmakers, young filmmakers from this town" he hoped.
0 Comments

Saksikan Seniman Individu kota palu dalam Palu Contemporary

Masih dalam rangkaian kegiatan acara pada Festival  Teluk  Palu 2011, Palu Contemporary adalah salah satu yang dicanangkan menjadi event budaya dan pariwisata tahunan oleh Pemerintah Kota. Menyambut hal itu para seniman Kota Palu pun menggagas sebuah ruang apresiasi bagi karya-karya seni kontemporer selama satu dekade terakhir yang selalu mengalami berbagai kendala, baik secara finansial maupun kendala non-teknis lainnya. Menyurutnya event-event kesenian kontemporer di Kota Palu juga berpengaruh pada menurunnya produktifitas para seniman sehingga dalam satu dekade terakhir sulit dijumpai karya-karya kontemporer dari para seniman di kota ini. Memahami kondisi itu, Dinas dan Pariwisata Kota Palu selaku fasilitator dan dinamisator kebudayaan berusaha untuk mendorong dan menumbuhkan kembali ruang kreatif dan apresiasi bagi karya-karya seni kontemporer sebagai bagian dari pertumbuhan kesenian dan kebudayaan di daerah ini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan berusaha untuk memfasilitasi terbangunnya event bagi karya seni kontemporer tersebut melalui pelaksanaan Festival Teluk Palu 2011 ini dengan menggagas Palu Contemporary.
Konsep event dari Palu Contemporary difokuskan pada karya-karya seni kontemporer dari para seniman individual dari beragam latar belakang medium seni, genre dan bentukan ruang presentasi mereka. Untuk itu dibutuhkan suatu studi mendalam terhadap konsep dan manajemen kreatif dari para seniman yang terlibat dalam program ini. Sebagai langkah awal, Palu Contemporary akan memfokuskan pembacaan kritis para seniman pada sebuah issue strategis yaitu Teluk, Kota dan Perubahan. Garis besarnya para seniman individu akan diundang untuk berpartisipasi dalam Palu Contemporary ini. Para seniman tersebut akan menggelar karya mereka sesuai dengan konsep dan bentuk karya mereka pada ruang dan lokasi di Kota Palu yang sesuai dengan konteks karya mereka.
Karena masih menjadi bagian dari pelaksanaan Festival Teluk Palu 2011, program Palu Contemporary akan dilaksanakan pada tanggal 16 s/d 18 September 2011 yang digelar dibeberapa tempat dan lokasi, yang disesuaikan dengan konteks karya kontemporer masing-masing seniman individu dari beragam latar belakang medium seni dan genre. Salah satu tujuan yang diharapkan dari event palu contemporary ini nantinya bisa membangun ruang apresiasi bagi kehadiran karya-karya seni kontemporer di Kota Palu dan di Propinsi Sulawesi Tengah, dan menjalin kohesi sosial serta keberagaman seni budaya, khususnya bagi publik Kota Palu yang pluralistis. (Sumber: coord. Palu Contemporary)
0 Comments

Palu Contemporary : Video Art Multimedia Performance by Dedi Budjang



Kota, selalu menjadi impian setiap orang, dan kota selalu melahirkan konflik dan status sosialnya.
Karya video art dan multimedia performance ini adalah upaya seniman untuk mencoba membaca dan memahami urban kota sebagai suatu bentuk persoalan yang senantiasa bersinggungan dengan masalah keadilan serta status sosialnya, karena kota selalu menjadi pusat segalanya. Maka orang-orang yang tadinya berasal dari rural area (wilayah desa) datang sebagai kaum miskin kota. Kota-kota kemudian tumbuh menjadi metropolis dan mega-city yang berlapis-lapis dan setiap lapisan itu bergesekan satu dengan lainnya. Hasilnya adalah hilangnya batas-batas ruang antara urban dan non-urban yang juga adalah dampak dari era yang meng-global ini. Semua yang urban kemudian dapat terjadi di daerah rural (desa) dan apa yang urban pun semakin sulit dijelaskan ketika arus informasi dan ideologi tidak lagi merupakan hak istimewa penghuni kota dan dari mereka lahirlah etika peradaban. Konflik sosial itu ada dan tidak hanya ada di dalam gambar saja. Pikiran mengenai kesadaran politis pada khalayak juga diperhitungkan. Tanpa kesadaran orang akan melihat semua itu sebagai sesuatu yang biasa saja. Tetapi orang yang mengalami persoalan-persoalan yang akan menjadi cerita merasa terwakili. Pada ujungnya realitas jualah yang akan menyelesaikan persoalan ini. Karya video art dan multimedia performance yang bertajuk Digital Erotica ini mengangkat realitas untuk kemudian menjadi representasi baru. (sumber: coord. Palu Contemporary).

DIGITAL EROTICA TEAM WORK
idea & director Dedi Budjang | Artistik Degus
Salim Bengga, Anca Logis | Lighting Rumah
Foto Palu | Performer Joko Suryawijaya,
Ai Bengga, Pekerja Sex Komersial Tondo
Produksi | Digital Underground
0 Comments

Palu Contemporary


AN Tanwir. Pettalolo is one of the senior artists in Central Sulawesi, which until now continues to work productively. AN Tanwir. Pettalolo is familiarly called Bang Tan, currently living in two cities were conflicting with the very large differences in the character of the City of Donggala and Jakarta. Life in both cities greatly affect the ideas and character of his work. Bang Tan started the world of art as a homage to cubism artists, a stream of modern art avant-garde that began spreading in Europe diparuh the 1920's. The works of two dimensions have specific traits and characteristics. In line with the various activities that they do outside the world of art, and his involvement in the flow of other arts such as theater, music and dance, the creative process is also experiencing perkemabangan. Bang Tan, also known as a theater director who since the latter half of the 80's had a lot of drama drama memanggungkan conventional and contemporary theater.

The works from the Arts Council Program Director Donggala is initially much influenced by the works of Modigliani, and Picasso, Jackson Pollock, Ives Klein and Marchel Duchamp. In the last 15 years, his works and then move into a three dimensional space, are like installations, visual art and multimedia art.

At this Contemporary Palu, Bang Tan assisted by Johar Effendi, a senior at City Donggala musician who is familiarly called Jo Bang and Kemal will present an action masterpiece painting by adapting digital visual imagery that will rebound lacks the Blues music. Work of art is trying to liberate art from the various loads imposed dipundak messages always artists as a form of communication and public accountability. Freedom of expression and creativity to be an important message from this work, not only the audience but also to the artists themselves are sometimes weighed him to communicate the social and political issues. (Source: coord. Hammer Contemporary)
0 Comments

Penayangan dan Diskusi Dokumenter Audiovisual Sejarah

Dalam rangka Pekan Nasional Cinta Sejarah atau yang disingkat Pentas, Palu (14/9) kemarin, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jendral Sejarah dan Purbakala, Direktorat Nilai Sejarah, yang bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah melaksanakan kegitatan Penayangan dan Diskusi Dokumenter Audiovisual Sejarah. Bertempat di gedung Taman Budaya Palu Kegiatan tersebut menayangkan sebuah film dokumenter yaitu Soekarno: Pejuang Tanpa Titik dan sebuah film fiksi yaitu Merah Putih. Kedua film tersebut sangat menarik dan penonton cukup menikmati.
Setelah pemutaran film, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi mengenai perspektif sejarah generasi muda Indonesia memahami nasionalisme kebangsaan kini dan datang melalui film. Kegitan ini bertujuan untuk memupuk sikap toleransi dan pemahaman multikultural yang dimaksudkan untuk memperkuat jati diri dan karakter bangsa.
Kegiatan yang dilaksanakan di Taman Budaya tersebut, dihadiri oleh kalangan pelajar dan mahasiswa, para budayawan, seniman, serta sineas Kota Palu. Kegiatan tersebut belangsung selama kurang lebih 8 jam. Kegiatan berlangsung cukup lancar, bahkan peserta sangat antusias dalam diskusi yang berlangsung (adhe)
0 Comments

Roa Night Production “Meskipun bermodal semangat, siapapun bisa membuat Film”

Golni 26-27 Juli 2011 kembali Komunitas Film indie kota palu menunjukan eksistensinya. Sineas-sineas muda yang tergabung dalam Roa Night Production menggelar event pemutaran Film karya mereka.  Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut dipadati para penonton yang mayoritas anak muda kota palu dari berbagai profesi, hal Ini dapat terlihat pada saat pemutaran hari pertama (26/07/11)   yang menampilkan Film terbaru mereka “B.A.P” dan “Saya Laki-laki”,  Juga dihari kedua Roa menampilkan 3 film lainnya yaitu Sang Penari, Beib Jack, dan Football and Love apresiasi pun diberikan para penikmat Film pada karya Arul Muhammad dan ady tutch.
Salah satu sineas dari Roa Night Production yakni Arul mengatakan diluar dari penguasaan yang baik secara teknis, tujuan pemutaran film karya mereka ini sebenarnya sebagai ajang perkenalan dari roa production sendiri tentang keberadaannya di kota palu, “tujuan pemutaran ini memang sekedar untuk memperkenalkan hasil karya dari Roa Night Production ke para komunitas film di kota palu” ujarnya.  Arul juga mengatakan ia mengharapkan semoga event ini bisa memotivasi teman-teman lain yang ingin membuat film, “siapapun bisa bikin film, saya, anda, atau teman-teman lain meskipun dengan fasilitas seadanya, semoga event ini bisa menumbuhkan motivasi” katanya. Sineas muda ini pun hanya bermodal semangat, kemauan, dan terus sharing dengan teman-teman yang lebih dulu bergelut didunia perfilman indie. Terbukti dalam waktu tiga minggu dan fasilitas seadanya Roa mampu menghasilkan karya.
“sayang saja tidak ada Sharing setelah pemutaran film karya Roa, seharusnya itu ada, biar teman-teman Roa bisa mendapat masukan secara langsung dari penonton, tapi sejauh ini saya cukup salut dengan semangat mereka” komentar salah seorang penonton pada pemutaran Film malam itu. Kegiatan ini akan menjadi event tahunan bagi Roa Night Production yang tidak hanya diperuntukan bagi anggota roa saja, namun kepada semua komunitas film yang ada di Kota Palu. ( Pinta/adhe )
0 Comments

Sebuah Pesan Penuh “Energi” Dalam Palu Contemporary



Foto: Degus Setia Budi
Ruang itu tak cukup luas namun ruang itu telah menjadi saksi atas kembali bangkitnya semangat bermusik para seniman veteran di Kota Palu. Begitulah pendapat Zulkifli Pagesa dalam sambutannya pada malam 18 September 2011. Bertempat di Gedoeng Joeang mereka menampilkan sebuah karya yang bisa dibilang sangat luar biasa. Selama kurang lebih satu jam, semua orang yang hadir dibuat terpukau. Alunan alat musik dan suara para penyanyi mampu membius sekaligus membuat siapa saja merinding. Saat semua yang hadir semakin larut dalam pertunjukan, tiba-tiba lampu di ruangan itu pun padam. Namun, itu tak akan menghentikan para musisi tersebut. Dengan bermodalkan suara, sebuah meja, dan semangat, karya penuh “energi” itu kembali terdengar.
Adalah Umaryadi Tangkilisan atau yang akrab disapa Adi, menjadi pencetus ide music performance pada malam itu. Pria yang lahir 8 April 1974 ini, menghimpun sejumlah musisi seperti Natsir Umar (Bass Akuistik & Vokal), Indra (Drum & Vokal), Abdi Iskandar (Vokal), Uthe (Vokal), Zulkifli Usman (Vokal), Fahmi Pedati (Biola & Vokal), dan Izzat (Mbasi-Mbasi, Lalove, & Vokal) dalam pertunjukannya. Hasilnya, gubungan dari berbagai jenis musik tersebut sangat memukau!
Malam itu karya musik yang menggabungkan berbagai unsur musik tersebut dipertunjukan dalam ajang Palu Contemporary. Pertunjukan yang merupakan bagian dari Festival Teluk Palu (FTP) tersebut, melibatkan musisi dan seniman dari berbagai latar belakang serta kelompok yang ada di Kota Palu. Mereka menampilkan sebuah pertunjukan musik dengan tema “Disini Lebih Dari Ada”. Hal ini, ingin menunjukan bahwa Palu (Sulteng), masih mempunyai para musisi dengan setumpuk ide-ide segar yang ada di kepala mereka. Siap untuk menunjukan jati diri lewat seni, dan siap pula menunjukan bahwa Palu memiliki potensi yang begitu kaya.

Foto: Degus Setia Budi
Jika melihat pertunjukan tersebut, pada dasarnya dibagi ke dalam dua bagian. Pada bagian pertama mempertunjukan permainan musik dengan sejumlah alat musik. Akan tetapi, tiba-tiba listrik di ruangan itu padam namun mereka tetap melanjutkan pertunjukan. Hanya bermodalkan alat sederhana, mereka mampu menghasilkan sebuah seni yang tetap mampu dinikmati. Bahkan semua orang yang hadir diruangan itu dalam kegelapan semakin khusyu menikmati. Setelah pertunjukan usai, ruangan pun kembali menjadi terang. Sebuah penerangan dari lampu yang bertenaga surya adalah sumbernya. Dan inilah yang ingin disampaikan oleh seorang Umaryadi Tangkilisan. Sebuah pertunjukan yang tidak hanya menyajikan keindahan seni, tapi juga kesadaran kepada masyarakat bahwa kita memiliki sumber energi lain.
Menurutnya, pertunjukan yang dipersiapkan selama tiga minggu ini setidaknya mampu merefleksi keadaan krisis energi beberapa waktu yang lalu. Dan sekarang juga kita masih mengalami krisis terhadap energi bahan bakart fosil tersebut. Bahkan ini menjadi sebuah ketergantungan, sementara setiap daerah memiliki potensi yang berbeda-beda. Dan, setiap daerah pada dasarnya memiliki potensi sumber daya yang lebih murah, lebih ramah lingkungan, dan tanpa batas. Karena yang ada, selama ini kita terlalu sibuk mengeluh tanpa adanya solusi yang diberikan, begitulah Adi menyampaikan tanggapanya mengenai keadaan krisis energi yang kita hadapi selama ini yang menjadi ide pertunjukannya. Salah seorang penonton yang hadir, Rival yang merupakan personil Steven and Coconut Treez berpendapat, Adi merupakan musikus yang memiliki karakter tersendiri, dan ini mencakup energi pula. “Menurut gue ini karya yang sadis!”.
Dibalik karyanya yang sadis, inilah pertunjukan yang penuh dengan energi. Tidak hanya dari musiknya yang berenergi, tapi juga pesan yang ingin disampaikan, yang mencakup kepedulian kita terhadap energi. Kita punya energi untuk melakukan hal yang lebih baik bagi masa depan kita. Bahwa kita (Palu)  punya energi, sehingga kita lebih mandiri.Sebuah musik performance dari Umaryadi Tangkilisan yang penuh dengan energi. Salut! (adhe)
0 Comments

Art Work On Hand Guido Daniele

Guido Daniele was born in Soverato (Italy) and now lives and works in Milan. He graduated from Brera School of Arts, he has been painting and participating in individual and group art exhibitions since 1968.

In 1972 he started working as hyper-realistic illustrator, in co-operation to the main editing in advertising companies, using different painting techniques and testing.

In 1990 he added a new artistic experience prior to use her body painting techniques to create the body paint on the model for the advertising image, fashion and exhibits.

His latest work is a painting on the wrist and make it as a new form of work that may be very rare to see because of its uniqueness. Here are some of his work.




 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 
Arts Blogs
blog directory
;