Saturday, 10 December 2011

Palu Contemporary : Video Art Multimedia Performance by Dedi Budjang



Kota, selalu menjadi impian setiap orang, dan kota selalu melahirkan konflik dan status sosialnya.
Karya video art dan multimedia performance ini adalah upaya seniman untuk mencoba membaca dan memahami urban kota sebagai suatu bentuk persoalan yang senantiasa bersinggungan dengan masalah keadilan serta status sosialnya, karena kota selalu menjadi pusat segalanya. Maka orang-orang yang tadinya berasal dari rural area (wilayah desa) datang sebagai kaum miskin kota. Kota-kota kemudian tumbuh menjadi metropolis dan mega-city yang berlapis-lapis dan setiap lapisan itu bergesekan satu dengan lainnya. Hasilnya adalah hilangnya batas-batas ruang antara urban dan non-urban yang juga adalah dampak dari era yang meng-global ini. Semua yang urban kemudian dapat terjadi di daerah rural (desa) dan apa yang urban pun semakin sulit dijelaskan ketika arus informasi dan ideologi tidak lagi merupakan hak istimewa penghuni kota dan dari mereka lahirlah etika peradaban. Konflik sosial itu ada dan tidak hanya ada di dalam gambar saja. Pikiran mengenai kesadaran politis pada khalayak juga diperhitungkan. Tanpa kesadaran orang akan melihat semua itu sebagai sesuatu yang biasa saja. Tetapi orang yang mengalami persoalan-persoalan yang akan menjadi cerita merasa terwakili. Pada ujungnya realitas jualah yang akan menyelesaikan persoalan ini. Karya video art dan multimedia performance yang bertajuk Digital Erotica ini mengangkat realitas untuk kemudian menjadi representasi baru. (sumber: coord. Palu Contemporary).

DIGITAL EROTICA TEAM WORK
idea & director Dedi Budjang | Artistik Degus
Salim Bengga, Anca Logis | Lighting Rumah
Foto Palu | Performer Joko Suryawijaya,
Ai Bengga, Pekerja Sex Komersial Tondo
Produksi | Digital Underground

0 Comments:

Post a Comment

 
Arts Blogs
blog directory
;