Saturday, 10 December 2011

Lovetrust Project-Poetry Jam Session

Pada 1 Oktober 2011, kunjungan Katrine May Hansen di Kota Palu diramaikan dengan 2 event, yakni Diskusi Inspiratif Menulis Kreatif pada jam 13:30 – 16:00 di Zaya Cafe, dan Poetry Jam Session pada jam 20:00 – 22:00 di Gedoeng Joeang.
Melanjutkan acara sebelumnya, Nombaca menghadirkan sebuah event sastra yang tidak seperti biasanya. Teras Gedoeng Joeang pada Sabtu malam itu dihiasi dengan hidangan tradisional khas Indonesia. Entah dari mana asal-muasal gerobak Kacang Rebus, yang jelas pada malam itu sebuah gerobak Kacang Rebus telah berdiri dari barat ke timur di teras Gedoeng Joeang dan siap dinikmati siapa saja yang menyaksikan pertunjukan malam itu. Di sisi utara, sebuah meja tertata mesra dengan gelas-gelas air mineral dan makanan ringan khas Kota Palu, Pisang Goreng. Untuk melengkapi kehangatan cinta, di sisi timur 2 buah termos cinta berisikan kopi dan teh tersedia. Tidak ada hidangan yang membisu, semuanya berinteraksi dengan mesra memeriahkan kehangatan cinta Lovetrust Project.
Neni Muhidin, seorang sastrawan yang juga komandan komunitas literasi Nombaca memimpin acara Poetry Jam Session. Di awal sesi ia menceritakan mengenai Lovetrust Project dan Katerine May Hansen. Neni pun menjelaskan pesan apa yang tersirat dari kegiatan di Sabtu malam itu, bahwa acara tersebut terselenggara melalui semangat gotong-royong khas Indonesia. Masing-masing sahabat memberikan kontribusi baik sound system, lighting, konsumsi, dan lainnya. Bahwa kita masih memiliki kekuatan kebersamaan, dan suasana itu harus terus ditumbuhkan di setiap kegiatan seni di Kota Palu.
Sesi pertama diwarnai dengan performance Hudan Nur dan Izat G. Lapute. Sebagai perwakilan KSI di Kota Palu, Hudan Nur menampilkan sajaknya yang berjudul Nobangu Batara’ dengan memainkan intonasi dan aksennya yang khas. Izat dengan kelembutan Lalove mendampinginya selama 5 menit, penampilan mereka berdua mengingatkan kita bahwa kultur verbal Kota Palu juga dapat ditransfer ke dalam seni sastra puisi. That is the true first impression of event. Selanjutnya Bu Masamah Amin Syam tampil dengan membawakan sajaknya yang berjudul Peradaban Luka. Wanita paruh baya ini dikenal prolifik untuk menulis, karyanya telah terbit di berbagai koran harian Kota Palu dan bukunya Ilustrasi Politik Kancil. Nombaca menyajikan kolaborasi lintas generasi, dan puisi Bu Mas’ama masih dalam tema cinta.
Mewakili generasi muda, Soraya Pinta Rama menampilkan sastra puisi digital berjudul “Kopi Setengah fiksi”. Semua mata tertuju padanya, Pinta yang dikenal sebagai jurnalis media on-line anak muda kota palu-StepMagz ternyata memiliki kapabilitas bius yang kuat. Pada moment itu ia menampilkan puisi yang dikolaborasikan dengan tampilan multimedia yang sangat estetis. “Kopi”, keabrabannya dengan kopi telah membuatnya menari lincah dalam dunia kreatif. Kata demi kata dalam sajaknya menstimulasi audiensi untuk belajar jujur terhadap diri sendiri. Kopi adalah sahabat dalam proses kreatifnya, segala perasaan yang tertuang dalam tulisannya senantiasa ditemani kopi.
Tak ketinggalan, lelaki matang yang bernama Satries pun tampil dengan sajak-sajaknya Senja Di Kota Palu, Balada Sungai Palu, Pesona Seni dan Penjaga Dian. Sesi ini bagi audiensi adalah sesi “menggelitik”, bagaimana tidak, Pak Satries selalu memaparkan prolog panjang sebelum pembacaan puisi. Itulah Pak Satries, seorang sastrawan puisi yang unik. Neni sebagai host menyeletuk sesudah penampilannya, bahwa jika ingin mengenal Pak Satries sebaiknya baca karyanya saja, tidak perlu bertemu langsung dengan orangnya. Benar-benar menggelitik.
Giliran berikutnya adalah pelaku sastra dari Denmark, siapa lagi jika bukan seorang wanita yang bernama Katrine May Hansen. Dengan gayanya yang lembut, ia membacakan sajak-sajaknya yang pasti bertemakan cinta. Puisi pertamanya adalah Kenya 6, dalam puisi ini beberapa kali ia menyebut nama Bob Marley dan ia juga mengutip lirik ‘cause every little thing’s gonna be all right. Puisi selanjutnya adalah Tiny Ghost, Defending the Night, The Likes of Us, Free Folk, Better of Fool, Indonesia 9, dan Fearess in the Night. Sebagai kelanjutan di kegiatan sebelumnya, Katrine membacakan If I Go Blind, sebuah puisi dokumentasi pengalamannya tatkala ia menjalani operasi mata beberapa tahun silam.Berikutnya ia membacakan puisi mengenai Neil Young dan Indonesia 5. Betapa kuat relasional Katrine dengan Indonesia, tidak hanya puisi, malam itu ia juga mengenakan busana batik. Rasanya cukup, penampilan Katerine pada sesi itu cukup mengobati jiwa-jiwa yang galau di dalam Gedoeng Joeang Kota Palu.
Pak Hapri Ika Poigei, pendiri Yayasan Tadulakota’ juga tampil membacakan puisi yang baru saja dibuatnya sore sebelum acara. Dan yang menarik, Pak Hapri mengajak Katrine untuk membacakan puisi “Aku” karya Chairil Anwar. Katrine mengawali dengan membaca terjemahan bahasa Denmark, kemudian Pak Hapri melanjutkannya dengan bahasa aslinya.
Bagi pengunjung acara, ada satu penampilan yang tidak lazim, yakni penampilan Endeng Mursalin dengan puisi eksperimentalnya. Neni mengatakan bahwa kesan malam itu tidak mungkin dapat dilupakan Katerine tatkala tiba di negerinya, penampilan Endeng Mursalin pasti berkesan baginya. Semakin menggelitik saja. Selanjutnya pembacaan puisi oleh Hanafi Sarro, Eman Saja, dan Zulkifli Pagesa dengan puisi eskperimennya People Love Weapon.
Sabtu malam, 1 Oktober 2011, rangkaian poetry jam session telah berakhir dan tibalah waktu berpisah. Sekali lagi, Nombaca sebagai komunitas literasi Kota Palu menyatakan apresiasi sebesar-besarnya kepada seluruh pendukung acara. Semoga event-event kreatif semakin mewabah di Kota Palu untuk terus menyemangati kita agar semakin mencintai negeri ini, seperti ungkapan Katrine dalam puisi Indonesia 3; I couldn’t have gone anywhere else, and kept my sanity. This is the land of humanity, this is the people of the gecko and the smile, this is my cradle of reality.  Salam Nombaca! Bantu Literasi Kota Palu. (Rachmad Ibrahim)

0 Comments:

Post a Comment

 
Arts Blogs
blog directory
;