Saturday, 10 December 2011

LOVETRUST PROJECT-Diskusi Inspiratif Menulis Kreatif




Perkenalan Lovetrust Project  Berawal dari ide penyatuan dua kata, love dan trust, Katerine May Hansen mempertegas petualangannya untuk melakukan investigasi ke berbagai negara untuk membuktikan cinta sebagai kausalitas cinta yang universal.
Wanita berdarah Denmark yang lahir pada tahun 1979 ini untuk ke sekian kali mengunjungi Indonesia. Kota Palu merupakan salah satu tujuan kunjungannya dalam Lovetrust Project dan Nombaca sebagai komunitas literasi media Kota Palu dipercayakan untuk menjadi promotor event pada tanggal 1 Oktober 2011.
Untuk memfasilitasi antusias peminat sastra di Kota Palu, Nombaca yang dipimpin oleh Neni Muhidin menyelenggarakan dua event, yaitu Diskusi Inspiratif Menulis Kreatif dan Poetry Jam Session. Zaya cafe terpilih sebagai venue acara Diskusi Inspiratif Menulis Kreatif, tepatnya pada Sabtu 1 Oktober 2011 jam 13:30 hingga 16:00.


Katrine May Hansen membagi pengalamannya dalam menulis
Pada event pertama, Katerine May Hansen memperkenalkan dirinya dan segala aktivitas kreatifnya dalam sastra dengan dibantu seorang translater/interpreter dari Magelang, yakni Muflihah. Ibarat satu tubuh, Katrine dan puisinya adalah sebuah asosiasi manifestasi cinta. Dan memang sosok seperti ini sangat dinantikan oleh para penikmat sastra yang selalu galau dalam pergumulan cinta di Kota Palu.
Mengawali diskusi singkat dan berkesan di Zaya Cafe, Katrine menyatakan bahwa bahasa bukanlah satu-satunya media komunikasi cinta, karena hanya perasaan cinta yang sanggup memediasi persoalan cinta. Tambahnya, perbedaan latar belakang semua negara memang berbeda, namun pasti setiap manusia memiliki sebuah perasaan yang sama. Histories are different, but feelings are same.
Culture Shock, Awal Petualangan
Katrine menceritakan keterbelakangannya di masa kecil hingga masa kehilangan ayah yang dicintainya. Sejak usia 13 tahun, ia memberanikan diri untuk melakukan traveling lintas kota di Denmark. Setelah kematian ayahnya, Katrine merasakan kehampaan yang mendalam, rasa kehilangan begitu besar sehingga hari-hari yang dilaluinya selalu dihantui oleh kesedihan yang seolah-olah tak berujung. Kala itu, ia bertarung dan bergumul dengan kesedihan intrapersonal yang terus dihadapinya. Dan akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi semua itu dan berkomitmen untuk mengawali petualangan investigasi cinta ke berbagai belahan dunia.
What if happened if i allow the guilty? It is true that i am sad, and that is all the truth. What will happened if i capture all those feelings in one feeling. Love is not what i thought what would be. Because love base of what imagine and happening. Demikian komitmen Katrine di saat-saat ia terpenjara dalam atmosfir kesedihan sepeninggal ayahnya.
Pada kunjungan pertamanya di Indonesia 10 tahun silam, Katerine sangat kaget, ia mengalamiculture shock. Apalagi, dalam kunjungan tersebut ia juga memberanikan diri untuk mengamati langsung dampak kerusuhan yang terjadi di Poso. Kala itu ia bertualang sendirian dan dalam keadaan hamil, betapa besar motivasi cinta yang ada dalam dirinya sehingga menyemangatinya untuk mendokumentasikan kejadian-kejadian konflik sosial di Poso. Inilah ciri khas Katrine May Hansen, puisi-puisi yang ditulisnya bukanlah data kognitif, puisi-puisinya adalah dokumentasi empiris yang dialaminya, semua kata yang ditulisnya terintegritas dalam semangat cinta dan perdamaian.
Katrine sangat terbuka dengan audiensi, ia menyatakan bahwa Lovetrust Project adalah sebuah pelariannya dari masa lalu yang menyedihkan. Dan dalam pelarian ini ia ingin berbagi cerita dan spirit kepada orang-orang yang ditemuinya untuk menceritakan hasil investigasi cinta yang dilakukannya. Harapan terbesar Katrine adalah terbangunnya kesadaran primordial dalam diri semua manusia, bahwa cinta adalah solusi dari segala persoalan yang dihadapi. Dan Katrine mengajak semua orang yang ditemuinya untuk membuka diri dan berkomunikasi antara satu sama lain dengan segenap rasa cinta.
Ia menambahkan bahwa diskusi Lovetrust Project tidak berbasis pada misi keagamaan dan kebudayaan, Lovetrust Project menjaga kemurnian cinta dari segala kepentingan. Ia mengajak segenap audiensi untuk belajar mendengar dan memahami satu sama lain, dan meninggalkan segala arogansi dalam diskusi. Kebahagiaan hanya dapat terwujud dalam kebersamaan, dan cinta di setiap saat harus dirayakan dengan semangat kebersamaan. Baginya, pemerintahan tidak akan sanggup menciptakan perdamaian, melainkan orang-orang yang memiliki kekuatan cintalah yang sanggup melakukannya, tentunya dengan diskusi seperti Lovetrust Project.
Kartu Pos dan Lovetrust Project
Keunikan Katrine May Hansen adalah pemilihan kartu pos sebagai media penerbitan puisinya. Baginya, postcard adalah salah satu alternatif media puisi karena kebanyakan orang enggan membaca buku. Ia pun menggunakan internet untuk menyebarkan puisi-puisinya dalam format kartu pos. Poetry must be precise as possible and must be simple, tegas Katrine.
Untuk memudahkan penikmat puisi, Katrine berupaya semaksimal mungkin untuk menulis dalam bahasa Inggris, meskipun baginya bahasa Inggris adalah bahasa asing bagi warga Denmark. Ia selalu ditemani kamus bahasa Inggris demi menjaga konsistensi kejelasan dan kesederhanaan kata dalam puisinya.


Diskusi Proses Menulis Kreatif
Proses Menulis
Menanggapi pertanyaan dari salah satu audiensi, Katrine menjelaskan mengenai proses kreatif menulis puisi. Beberapa aturan dibuatnya untuk menjaga konsistensi penulisan. Biasanya Katrine menulis jurnal, bukan diary, jurnal tersebut ditulisnya hingga penuh satu buku. Kemudian buku tersebut disimpannya selama sebulan bahkan hingga 1 tahun, jurnal tersebut kemudian ditransfer ke dalam puisi. Metode seperti ini lazim ditemui di banyak penulis puisi.
Kala tertentu ia menerapkan aturan bahwa puisi harus ditulis dengan awalan huruf T, namun ketika ia menemukan banyak kendala, maka ia memutuskan untuk melanggar aturan tersebut dan mempersilahkan kreatifitas yang tersedia dalam otaknya untuk bergerak bebas mengarahkan jari-jemarinya menuangkan ide dalam puisi, salah satu contohnya adalah puisinya yang berjudul “Orang”.
Write whenever, every single moment must be written. Baginya pena dan kertas adalah sahabat sejati, jangan pernah menyiakan waktu untuk menangkap semua kejadian yang ditemui ke dalam tulisan. Karena memory otak manusia sangat terbatas untuk merekam aneka kejadian yang terjadi dalam suatu waktu yang bersamaan.
Puisi adalah alat universal untuk mendokumentasikan inspirasi yang kerap bersumber dari persoalan agama dan budaya. Indonesia adalah negara yang akrab dengan Katrine, beberapa waktu lalu ia berkolaborasi dengan dosen sastra di Jember untuk menerbitkan sebuah buku Kaleidoskop puisi yang berbahasa Inggris dan Indonesia.
Aku, Chairil Anwar sebagai Penutup
Kegalauan telah terobati sedikit demi sedikit karena audiensi yang hadir pada saat itu merasakan kemudahan berintreaksi selama prosesi acara karena kehadiran Muflihah sebagai translater/interpreter. Beberapa perwakilan komunitas sastra hadir dan menikmati kehangatan cinta yang dipresentasikan Katrine. Dan di akhir presentasinya, Katrine membacakan sajak Chairil Anwar yang diterjemahkan ke dalam bahasa Danish, sebuah puisi fenomenal yang berjudul “Aku”.
Tak terasa, diskusi Lovetrust Project telah berlangsung selama 2,5 jam. Rasanya masih banyak hal-hal yang perlu didiskusikan, namun keterbatasan waktu dan tuntutan persiapan lanjutan kegiatan di malam hari telah memaksa segenap sahabat yang hadir di Zaya untuk mengakhiri diskusi di Sabtu itu.
Nombaca sebagai komunitas literasi Kota Palu telah memberikan stimulus bagi masyarakat Kota Palu. Tidak ada harapan agung dari Nombaca, adalah harapan sederhana yang ingin tercapai, yakni Kota Palu dapat dihiasi dengan kreatifitas yang berbasis pada diskusi yang terbuka dan penuh kehangatan cinta. Kota Palu suatu saat akan mengalami rintik hujan yang bersumber dari kondensasi kreatifitas masyarakatnya. Hembusan angin cinta akan membawa hujan itu ke wilayah-wilayah yang gersang dan hampa. Dan hujan itu akan membasahi jiwa-jiwa yang galau. Semarakan Cinta! Bantu Literasi Kota Palu! (Rachmad Ibrahim)

0 Comments:

Post a Comment

 
Arts Blogs
blog directory
;