Saturday, 10 December 2011

Antara Penonton Cerdas dan Film Bermutu




foto: www.deviantart.com
Perkemabangan film di Indonesia kian hari kian pesat. Tiap tahunnya Indonesia mampu menghasilkan sejumlah film dengan berbagai genre. Menbudpar RI optimis menyebutkan tahun 2011 film yang diproduksi bisa mencapai 100 per judul dan tahun 2014, Indonesia pantas memiliki 200 judul pertahun (smuber  online).
Indonesia boleh bangga karena mampu bangkit dari mati suri dunia perfilman, namun Indonesia juga harus waspada film-film yang beredar tergolong film yang tidak bemutu. Secara kuantitas boleh mengejutkan, akan tetapi jika kualitasnya jelek maka tentu saja tak akan menghasilkan apa-apa bagi perkembangan moral dan budaya bangsa.
Kita boleh bangga dengan sejumlah film-film sineas muda Indonesia yang menjadi box office di tanah air. Ada Laskar Pelangi yang kuat dengan pesan pendidikannya, ada Wanita Berkalung Sorban yang mengusung kesetaraan gender, dan lain sebagainya. Akantetapi kita juga tidak bisa pungkiri kalau Suster Keramas, Menculik Miyabi, Pocong Ngesot, Kuntilanak Kesurupan dan film-film sejenis juga mendapatkan perhatian yang besar dari masyarakat. Dan sudah bisa dipastikan film tersebut jauh dari nilai pendidikan budaya bangsa. Bahkan, faktanya dominan masyarakat cenderung menyukai film-film yang demikian.
Apa yang terjadi? Apakah masyarakat memang benar-benar gemar dengan film-film berbau horror dan cenderung menyukai film yang kurang bermutu? Apakah memang pilihan yang tersedia di dominasi film yang demikian? Ataukah masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan mengenai film yang layak tonton? Dari semua permasalahan tersebut, pilihan terakhir mungkin merupakan hal yang jarang disadari. Pengetahuan masyarakat akan film bermutu pada umumnya sangat kurang, sehingga berpengaruh pada selera film yang ingin mereka saksikan. Alhasil, film-film berbau horror dengan dominan unsur seks menjadi primadona.
Hal ini, tentu saja akan berpengaruh terhadap jenis film yang diproduksi. Sebab, tak bisa dipungkiri industri perfilman merupakan dunia bisnis. Para produser hanya akan membiaya film dengan jumlah penikmat yang banyak. Nah, coba bayangkan jika penonton cerdas dalam memilih film yang bermutu. Film-film yang bermuatan nilai budaya bangsa, dan sarat akan nilai-nilai pendidikan, serta moral. Atau film-film dengan tema sejarah dan perjuangan yang konon memakan biaya yang tidak sedikit, maka sudah bisa dipastikan film-film berkualitas akan merajai tanah air. Sebaliknya, jika film-film yang hanya menyajikan adegan seks dan kekerasan serta mistis, yang paling banyak digemari. Maka, tentu saja akan semakin banyak film-film yang bergendre demikian yang diproduksi.
Harapannya, Indonesia akan memiliki film yang tidak hanya memberikan hiburan, akan tetapi juga dapat memberikan pemahaman akan nilai-nilai yang dianut bangsa ini. Dan tidak menuntut kemungkinan film Indonesia memiliki cirri khas tersendiri di mata dunia, seperti halnya film asal Bollywood yang begitu dikenal masyarakat dunia.
Jika penontonnya pintar, maka mereka akan memilih film yang bermutu. Hal ini akan berpengaruh terhadap film-film yang tidak bermutu. Jika film bermutu tidak ada yang minati, produser mana yang mau memproduksi. Simpel kan! Seperti yang diungkapkan oleh Dr. Mukhlis Pa’Eni yang merupakan Ketua Lembaga Sensor Film dalam kegiatan Pekan Nasional Cinta Budaya (PENTAS) beberapa waktu yang lalu. Menurtunya, penonton itu harus cerdas agar mereka lebih selektif dalam memilih film yang bermutu. Kalau penontonya cerdas, maka akan berpengaruh terhadap film yang diproduksi. Mana ada produser yang mau membiayai film yang tidak memiliki penonton, tuturnya. Kemudian, Dr. Mukhlis Pa’Eni menambahkan, kami medorong agar produser memiliki basis lokalitas yang bagus. Dari khasana sejarah, budaya, dan tradisi yang ada di negeri kita. Dengan demikian, sudah saatnya film-film Indonesia mengangkat budaya lokal. Sebab, film yang membutuhkan budget di atas 20 M tersebut realitasnya masih sangat sedikit diminati oleh masyarakat kita (adhe).

0 Comments:

Post a Comment

 
Arts Blogs
blog directory
;